Pendugaan Simpanan Karbon Bagian Atas dan Bawah Permukaan Tanah pada Hutan Tanaman di Taman Hutan Raya Banten
Abstract
Ekosistem hutan dapat menyerap gas rumah kaca (GRK) dengan cara
menyerap CO2 dari udara menjadi simpanan karbon (C) dalam vegetasi, baik
berkayu, tumbuhan bawah atau karbon organik dalam tanah. Vegetasi hutan
menyerap karbon dioksida melalui aktivitas fotosintesis dan mampu menyimpan
sekitar 76–78% karbon organik dari total karbon organik daratan dalam bentuk
biomassa. Tanaman di hutan dapat digunakan untuk penyimpanan karbon, karena
jumlah biomassa yang tersimpan berbanding lurus dengan jumlah karbon dalam
tanaman tersebut. Provinsi Banten saat ini masih memiliki Taman Hutan Raya
(TAHURA) Banten yang termasuk ke dalam jenis ekosistem hutan hujan dataran
rendah yang didominasi oleh tumbuhan dari famili Dipterocarpaceae. Tujuan
penelitian ini menduga potensi biomassa, simpanan karbon, dan serapan karbon
dioksida (CO2) dan analisis pengaruh perbedaan biomassa terhadap karakteristik
sifat kimia dan biologi tanah pada tegakan hutan tanaman S. leprosula, hutan
tanaman rimba campuran dan hutan tanaman reboisasi di Taman Hutan Raya
Banten.
Metode yang digunakan adalah pengukuran diameter dan tinggi (pohon,
tiang, pancang, kayu mati, dan pohon mati) serta pengukuran kadar air tumbuhan
bawah, semai dan serasah. Pengambilan data tanah dilakukan dengan metode
purposive sampling dengan mengambil contoh tanah pada plot 1, 13, dan 25.
Pengamatan biologi tanah dilakukan dengan metode hand sorting dan corong
berlese pada identifikasi makrofauna dan mesofauna. Hasil penelitian menunjukan
total biomassa yang dihasilkan oleh tegakan hutan tanaman rimba campuran adalah
sebesar 220,69 t/ha, hutan tanaman reboisasi 155,84 t/ha, dan hutan tanaman S.
leprosula 173,96 t/ha. Nilai karbon yang dihasilkan oleh tegakan hutan tanaman
rimba campuran adalah 103,73 tC/ha, hutan tanaman reboisasi 73,24 tC/ha, dan
hutan tanaman S. leprosula 81,76 tC/ha. Nilai serapan karbon dioksida yang
dihasilkan tegakan hutan tanaman rimba campuran adalah 380,68 tCO2/ha, hutan
tanaman reboisasi 268,80 tCO2/ha, hutan tanaman S. leprosula 300,06 tCO2/ha.
Keragaman fauna tanah yang dominan ditemukan dalam penelitian ini ialah semut
hitam dan semut merah yang dianggap sebagai indikator kesuburan tanah.
Kandungan C-organik tanah pada ketiga lokasi penelitian berstatus tinggi karena
berada pada nilai >4% dimana semakin tinggi kandungan C-organik, total maka
semakin baik kualitas tanah. Jika kualitas tanah baik maka berkorelasi positif
dengan pertumbuhan vegetasi.
Collections
- MT - Forestry [1511]
