Show simple item record

dc.contributor.advisorNasrullah, Nizar
dc.contributor.advisorSulistyantara, Bambang
dc.contributor.authorPrasetya, Avissa Ayuningdias
dc.date.accessioned2023-01-01T13:41:50Z
dc.date.available2023-01-01T13:41:50Z
dc.date.issued2022-12
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/115800
dc.description.abstractPolusi NO2 di perkotaan rata rata dihasilkan oleh emisi dari kendaraan bermotor, industri, rumah tangga, pembakaran sampah dan lainya. Emisi emisi tersebut dapat terus meningkat seiring dengan bertambahnya pertumbuhan penduduk suatu kota. Salah satu kota tersebut adalah Kota Bandung. Menurut BPS (2018) Kota Bandung merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk terpadat, terdapat 2,5 juta penduduk yang belum termasuk komuter. Polutan NO2 sangatlah berbahaya jika terus dibiarkan dapat menyebabkan gangguan pernafasan sampai kematian. Untuk menghadapi hal tersebut perlunya ruang terbuka hijau di Kota Bandung. Namun kehadiran ruang terbuka hijau di Kota Bandung belumlah tepat jumlah dan penggunaan tanaman yang tidak sesuai dalam menangani polusi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distibusi ruang terbuka hijau Kota Bandung, menganalisis besaran emisi gas NO2 dan memberikan rekomendasi vegetasi untuk mengurangi polutan gas NO2. Hasil dari analisis distribusi RTH Kota Bandung terdapat 6 kategori diantaranya yaitu tidak ada vegetasi 3,88%, sangat jarang vegetasi 59,70%, jarang 18, 29%, sedang 6,31%, bervegetasi 3,61%, dan sangat bervegetasi 8,67%. Sementara hasil dari sumber polutan NO2 yang disebabkan oleh kawasan rumah tangga di Kecamatan Ciparay sebesar oleh LPG dan listrik dengan total 16.019.841,84 g/hari sedangkan paling kecil Kecamatan Regol pada LPG dan listrik dengan total 5.641.120,46 gr/hari. Emisi yang dihasilkan oleh industri Kecamatan Babakan Ciparay berjumlah dengan total 10.929,82 g/hari sedangkan emisi paling sedikit pada Kecamatan Bandung kidul berjumlah dengan total 1.987,3 g/hari. Pada transportasi emisi rata rata sebesar 1.9201,62 g/hari. Kapasitas RTH dalam menyerap emisi NO2 per kecamatan menunjukan Kecamatan Bojongloa Kaler memiliki serapan paling besar yaitu 6.067.097,92 g/hari sedangkan Kecamatan Andir sebesar 680.422,19 g/hari. Untuk itu RTH yang perlu ditambah untuk mengurangi emisi NO2 Kecamatan Babakan Ciparay paling besar berjumlah 6,36 ha sedangkan Kecamatan Bojongloa Kaler tidak memerlukan penambahan RTH.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.titleKajian Ruang Terbuka Hijau Dalam Mengurangi Polutan NO2 Di Kota Bandungid
dc.typeThesisid
dc.subject.keyworddomestic householdid
dc.subject.keywordgreen open spaceid
dc.subject.keywordindustrial factoriesid
dc.subject.keywordpollutionsid
dc.subject.keywordvehiclesid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record