| dc.description.abstract | Kumbang scarabaeid memiliki peran penting dalam ekosistem hutan, seperti
daur ulang nutrisi, penyebaran benih, regenerasi hutan, pengendalian populasi parasit,
dan pengurangan emisi karbon. Hingga saat ini, belum ada publikasi tentang
keanekaragaman kumbang scarabaeid di ekosistem hutan hujan dataran rendah Papua
Barat, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman
kumbang scarabaeid di ekosistem hutan hujan dataran rendah Taman Wisata Alam
Sorong (TWAS) Papua Barat, Indonesia. Penentuan lokasi yang digunakan dalam
penelitian ini menggunakan metode purposive sampling pada tiga tipe habitat (zona
rehabilitasi, zona konservasi, dan zona lindung).Koleksi kumbang menggunakan tiga
jenis perangkap, yaitu dung trap (tipe A, B, dan tipe C), light trap, dan active sampling.
Dung trap diberi umpan berupa kotoransapi dan manusia. Kotoran sapi yang digunakan
adalah dalam kondisi segar yang diganti setiap 24 jam. Pengambilan sampel dilakukan
selama 68 hari di setiap habitat. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 13 spesies
kumbang berhasildikumpulkan. Onthophagus memiliki kekayaan spesies tertinggi (5
spesies) dan kekayaan spesies terendah adalah Aphodius sp., Anomala sp., dan
Adoretus sp. (1 spesies). Indeks keanekaragaman kumbang tertinggi ditemukan di zona
lindung (H’=2,09), diikuti oleh zona konservasi (H’=2), dan zona rehabilitasi
(H’=0,5). Berdasarkan jenis perangkap, dung trap mengumpulkan spesies kumbang
terbanyak (9 spesies), diikuti oleh light trap (6 spesies), dan sampling aktif (2 spesies).
Kelimpahan kumbang kemungkinan dipengaruhi oleh pH dan kelembaban tanah,
kelembaban dan suhu udara, intensitas cahaya, curah hujan, kompleksitas jenis
tumbuhan, dan kotoran mamalia sebagai sumber makanan. Penelitian ini merupakan
laporan pertama kumbang scarabaeid di Papua Barat, Indonesia. | id |