Show simple item record

dc.contributor.advisorBaga, Lukman M
dc.contributor.advisorEtriya, Etriya
dc.contributor.authorSalassa, Dara Intan
dc.date.accessioned2022-12-16T04:28:05Z
dc.date.available2022-12-16T04:28:05Z
dc.date.issued2022
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/115567
dc.description.abstractPerempuan wirausaha memiliki kontribusi yang cukup tinggi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun, kewirausahaan yang dikelola oleh perempuan cenderung tidak berkembang dan relatif lebih kecil dibandingkan dengan kewirausahaan milik laki-laki. Dalam hal ini, budaya menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja usaha perempuan wirausaha. Budaya dapat meningkatkan kinerja perempuan wirausaha, tetapi dapat pula menurunkan kinerja mereka. Di negara maju, perempuan memiliki kesempatan dan kualifikasi akademis yang sama baiknya dengan laki-laki, tetapi tingkat pertumbuhan kewirausahaanya rendah. Sementara, perempuan wirausaha di negara berkembang memiliki lebih banyak hambatan dalam berwirausaha, tetapi pertumbuhan kewirausahaan di negara tersebut relatif tinggi. Hal ini diduga bahwa budaya memengaruhi perempuan dalam berwirausaha. Indonesia menduduki peringkat ke-17 dari 58 negara sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan perempuan wirausaha yang relatif tinggi. Di Indonesia, tingkat pertumbuhan perempuan wirausaha hanya sebesar 21% lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan pria wirausaha sebesar 79%. Hal ini mengindikasikan bahwa keterlibatan perempuan wirausaha Indonesia masih rendah yang dapat disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Indonesia memiliki keragaman budaya etnis yang mampu menciptakan pertumbuhan kewirausahaan, salah satunya adalah Bugis. Nilai-nilai dari budaya Bugis yang diyakini mampu meningkatkan kinerja usaha perempuan wirausaha, di antaranya; reso (kerja keras), macca (cerdas dan cakap), passibijaang (kekeluargaan), dan barani (keberanian). Selain nilai budaya Bugis yang meningkatkan kinerja, juga terdapat nilai yang memberikan batasan ruang gerak pada perempuan wirausaha. Nilai tersebut mengindikasikan penurunan kinerja dan kesulitan perempuan wirausaha dalam mengembangkan bisnisnya. Nilai siri’ (harga diri) walaupun merupakan nilai utama yang harus dimiliki oleh masyarakat Bugis, namun siri’ juga memberikan keterbatasan ruang gerak pada perempuan. Dampak negatif yang ditimbulkan dari nilai Siri’ yaitu kesenjangan gender, ketergantungan, dan konflik peran ganda pada diri perempuan wirausaha. Penelitian terdahulu dengan fokus nilai budaya lokal sebagian besar memfokuskan pada nilai budaya yang mendukung perempuan berwirausaha. Sementara sejauh ini, masih sedikit penelitian empiris dengan bahasan nilai budaya lokal yang mungkin membatasi ruang gerak perempuan berwirausaha. Selain itu, penelitian dengan kajian kinerja perempuan wirausaha yang ditinjau dari nilai budaya Bugis yang mendukung dan menghambat, belum ditemukan. Dengan begitu, menjadi nilai kebaruan pada penelitian ini. Berdasarkan uraian latar belakang, tujuan penelitian ini adalah (1) menjelaskan nilai budaya Bugis reso, macca, passibijaang, barani, dan siri’ pada perempuan wirausaha di Kabupaten Bulukumba, dan (2) menguji pengaruh nilai budaya Bugis reso, macca, passibijaang, barani, dan siri’ pada kinerja usaha perempuan wirausaha di Kabupaten Bulukumba. Metode penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan simple random sampling. Responden penelitian berasal dari usaha mikro, kecil, dan menengah produsen gula kelapa dan gula aren milik perempuan wirausaha. Total populasi berjumlah 477 anggota. Jumlah sampel terpilih sebanyak 205 responden. Perolehan jumlah sampel ditentukan berdasarkan jumlah indikator (39 indikator) dikalikan 5 kali parameternya, sehingga minimal sampel sebanyak 195 responden. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner online dan offline. Sebelumnya, telah dilakukan uji kuesioner bersama enam perempuan wirausaha dan satu ahli budayawan. Uji kuesioner dilakukan guna memverifikasi bahwa kuesioner telah mampu dipahami oleh responden yang ditunjukkan dari hasil tanggapan mereka. Ahli budaya berpendapat, bahwa pertanyaan kuesioner telah sesuai dengan nilai kebudayaan Bugis pada penelitian ini. Selain itu, disarankan memperdalam nilai kebudayaan Bugis lainnya, seperti lempu (kejujuran), sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghormati), dan sipakainge (saling mengingatkan). Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah statistik deskriptif dan partial least square (PLS) SEM. Pada analisis partial least square (PLS) terdapat konstruk variabel laten yang direfleksikan oleh masing-masing dimensinya. Variabel penelitian ini meliputi variabel independen, dependen, dan variabel kontrol. Variabel independen di antaranya; reso (energy level: empat indikator), macca (managerial skill: enam indikator), passibijaang (dukungan keluarga: empat indikator), barani (keberanian mengambil risiko: tujuh indikator), dan siri’ direfleksikan oleh gender gap (enam indikator), ketergantungan (tiga indikator), dan peran ganda perempuan (tiga indikator). Variabel dependen adalah kinerja usaha berdasarkan omset dan laba usaha. Variabel kontrol di antaranya; akses ke keuangan, akses ke pelatihan, pendidikan, dan usia usaha. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa (1) budaya reso pada perempuan wirausaha cenderung sangat tinggi, sedangkan budaya macca cenderung tinggi. Budaya passibijaang dan barani pada perempuan wirausaha cenderung agak tinggi. Budaya siri’ pada perempuan wirausaha cenderung rendah. (2) Budaya Bugis macca dan barani terkonfirmasi mampu meningkatkan kinerja usaha perempuan wirausaha. Sementara budaya Bugis reso dan passibijaang tidak terkonfirmasi meningkatkan kinerja usaha perempuan wirausaha. Budaya siri’ yang diduga sebagai budaya menurunkan kinerja usaha perempuan wirausaha, tidak terkonfirmasi menurunkan kinerja usaha. Hasil analisis tersebut menandakan hal baik pada penelitian kewirausahaan perempuan Bugis. Sekalipun dalam nilai siri’ terdapat pembatasan ruang gerak perempuan, tetapi nilai budaya siri’ berhasil dimaknai secara positif oleh perempuan wirausaha, yakni hambatan tidak berarti berpasrah diri. Pemerintah memegang peranan penting dalam mewujudkan peningkatan dan pengembangan kewirausahaan milik perempuan melalui kebijakan yang mendukung perempuan berwirausaha. Pembentukan komunitas perempuan wirausaha pedesaan, pengadaan pelatihan, dan program dukungan pendanaan usaha akan menjadi hal yang berarti bagi perempuan wirausaha.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePengaruh Budaya Bugis terhadap Kinerja Usaha Perempuan Wirausaha di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatanid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordBugis cultureid
dc.subject.keywordbusiness performanceid
dc.subject.keywordpartial least squareid
dc.subject.keywordwomen entrepreneursid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record