Show simple item record

dc.contributor.advisorHidayat, Rahmat
dc.contributor.advisorDasanto, Bambang Dwi
dc.contributor.advisorSwarinoto, Yunus Subagyo
dc.contributor.authorFibriantika, Eka
dc.date.accessioned2022-11-22T06:51:46Z
dc.date.available2022-11-22T06:51:46Z
dc.date.issued2022
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/115315
dc.description.abstractPengamatan radiosonde merupakan salah satu pengamatan udara atas yang dilakukan di Indonesia. Data radiosonde merupakan salah satu data yang dapat digunakan untuk melakukan analisis udara atas. Tekanan udara, suhu udara, suhu titik embun, arah dan kecepatan angin, serta kelembapan atmosfer merupakan data yang dihasilkan dari observasi radiosonde. Namun pemanfaatan data radiosonde di Indonesia belum optimal, sehingga pemahaman terkait karakteristik udara atas di Indonesia masih belum optimal terutama terkait pola musiman. Suhu udara merupakan hasil observasi radiosonde yang penting karena suhu udara berkaitan erat dengan pertukaran energi di atmosfer. Memahami tren struktur vertikal suhu udara atas merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengkaji perubahan iklim. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis karakteristik struktur vertikal udara Indonesia dengan menganalisis suhu udara, suhu titik embun, kelembapan relatif, arah angin, dan kecepatan angin pada 11 lapisan standar; dan (2) menganalisis tren struktur vertikal suhu udara pada 6 lapisan standar. Penelitian ini menggunakan data radiosonde dari 22 stasiun meteorologi pengamatan radiosonde Indonesia. Data dilakukan kendali mutu dan uji homogenitas sebelum dilakukan analisis karakteristik struktur vertikal udara yaitu dengan cara mencari nilai rata-rata masing-masing unsur data radiosonde per 3 bulan yaitu Desember-Januari-Februari, Maret-April-Mei, Juni-Juli-Agustus, September-Oktober-November. Analisis struktur vertikal tren suhu udara dilakukan dengan menggunakan Metode Mann-Kendal. Hasil analisis karakteristik struktur vertikal udara menunjukkan suhu titik embun lebih terlihat perbedaannya secara musiman dibandingkan suhu udara musiman. Semakin tinggi nilai suhu titik embun pada suatu lapisan maka selisih nilai suhu udara dengan suhu titik embun pada lapisan tersebut akan semakin kecil. Hal ini mengakibatkan nilai kelembapan relatif besar. Semakin rendah suhu titik embun maka selisih suhu udara dengan suhu titik embun akan semakin besar. Kondisi ini menghasilkan nilai kelembapan relatif kecil. Arah angin dominan pada lapisan 925 dan 700 mb didominasi oleh angin zonal (barat-timur). Pada lapisan 500 dan 300 mb, arah angin dominan dari timur yang merupakan angin pasat timur. Semakin tinggi lapisan maka kecepatan angin akan semakin kencang. Tren struktur vertikal suhu udara pada Stasiun Meteorologi Kualanamu Deli Serdang, Minangkabau Padang, Depati Amir Pangkalpinang, Soekarno Hatta Tangerang, Juanda Sidoarjo, Sam Ratulangi Manado, Sis Al Jufri Palu, Sultan Hasanuddin Maros, El Tari Kupang, Frans Kaisiepo Biak dengan panjang data 13 tahun dari tahun 2007 hingga 2019 menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah kajian terjadi tren pemanasan suhu udara atas pada lapisan troposfer (1000–250 mb). Pada lapisan 100 mb sebagian besar wilayah kajian dengan panjang data l3 tahun menunjukkan adanya tren pendinginan suhu udara. Pada wilayah dengan panjang data kurang dariid
dc.description.sponsorshipLembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleKarakteristik Struktur Vertikal Udara Berdasarkan Observasi Radiosonde di Indonesiaid
dc.title.alternativeCharacteristics of Vertical Structure of Air Based on Radiosonde Observations in Indonesiaid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordobservationid
dc.subject.keywordstratosphereid
dc.subject.keywordtropicsid
dc.subject.keywordtroposphereid
dc.subject.keywordupper-airid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record