Show simple item record

dc.contributor.advisorRusdiana, Omo
dc.contributor.advisorLatifah, Melly
dc.contributor.authorSatyawan, Verda Emmelinda
dc.date.accessioned2022-10-12T07:18:32Z
dc.date.available2022-10-12T07:18:32Z
dc.date.issued2022-10-12
dc.identifier.citationIOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 959id
dc.identifier.other012027
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/114948
dc.description.abstractIndonesia memiliki 521 kawasan konservasi dengan total wilayah 27 juta ha. Salah satu fungsi kawasan konservasi adalah pengembangan dan penggunaan layanan ekosistem. Pemanfaatan dan kebutuhan jasa lingkungan hutan meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan urbanisasi. Terapi hutan merupakan kegiatan memanfaatkan jasa lingkungan hutan untuk keperluan penyembuhan manusia. Terapi hutan telah diterapkan di berbagai negara dengan bentuk program intervensi yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk program terapi hutan yang telah dilakukan oleh penelitian lain serta mengkonstruksi program terapi hutan yang aplikatif di Tahura Djuanda. Berdasarkan sintesis systematic literature review yang dilakukan, metode intervensi (program terapi hutan) yang aplikatif di Tahura Djuanda terdiri atas kegiatan peregangan, berjalan, menginderai hutan dan mengkonsumsi ubi rebus serta teh hangat. Analisis karakteristik Taman Hutan Raya Ir H Djuanda (Tahura Djuanda) sebagai lokasi terapi hutan, dilakukan dengan menganalisis suhu, kelembaban, intensitas cahaya dan tingkat kebisingan. Lokasi terapi hutan memiliki rentang suhu 22 oC sampai 25.6 oC, dengan kelembaban 61% sampai 87 %, dan intensitas cahaya 291 lux sampai 970 lux, serta tingkat kebisingan 49 dB sampai 52.5 dB. Mengacu pada peraturan Dinas Kesehatan untuk tempat penyembuhan, suhu dan tingkat kebisingan di Tahura Djuanda memenuhi syarat sebagai tempat penyembuhan. Tahura Djuanda merupakan kawasan hutan yang heterogen dengan tinggi pohon yang berbeda-beda. Karena Tahura Djuanda sudah berdiri sejak jaman Hindia-Belanda, lokasi terapi hutan didominasi mature trees dengan densitas yang sedang dan kerapatan tajuk sampai 90%. Namun, masih dengan intensitas cahaya yang memadai (291 lux sampai 970 lux). Secara keseluruhan, Tahura Djuanda merupakan kawasan hutan yang aman dan bebas sampah serta kebisingan. Semua karakteristik tersebut dapat berperan dalam peningkatan well-being manusia. Pengujian program terapi hutan yang telah dikonstruksi dilakukan dengan menganalisis saturasi oksigen dalam darah, denyut nadi per menit menggunakan oximeter dan keadaan mood responden menggunakan Profile of Mood States kepada 30 responden. Penelitian ini menemukan bahwa program terapi yang diterapkan berpengaruh signifikan terhadap denyut nadi per menit dan penurunan mood negatif namun, tidak berpengaruh signifikan terhadap saturasi oksigen responden. Penelitian ini menyimpulkan bahwa lokasi di Tahura Djuanda yang digunakan tepat untuk dijadikan area terapi hutan. Penelitian ini merupakan penelitian awal yang diharapkan dapat menjadi acuan untuk penelitian lain mengenai terapi hutan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.relation.ispartofseriesIOP Conference Series: Earth and Environmental Science;959 (2022)
dc.titlePemanfaatan Jasa Ekosistem Hutan untuk Peningkatan Kesehatan Manusia: Uji Coba Terapi Hutan di Taman Hutan Raya Ir H Djuandaid
dc.title.alternativeForest Ecosystem Utilization to Increase Human Health: Forest Therapy Trials in Taman Hutan Raya Ir H Djuandaid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordkarakteristik hutanid
dc.subject.keywordkawasan konservasiid
dc.subject.keywordterapi hutanid
dc.subject.keywordforest characteristicsid
dc.subject.keywordforest conservation areaid
dc.subject.keywordforest therapyid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record