| dc.description.abstract | Pinus merkusii merupakan spesies tanaman pinus asli Indonesia yang banyak tumbuh di sepanjang Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Tanaman ini menghasilkan hasil hutan kayu (HHK) dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dalam bentuk getah pinus yang menjadi bahan baku industri gondorukem dan minyak terpentin. Secara global, Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai produsen produk pinus terbesar di dunia setelah Tiongkok dan Brazil. Perhutani sebagai Badan Usaha Milik Negara Kehutanan mampu memproduksi rata-rata 65.000 ton gondorukem dan 14.000 ton minyak terpentin per tahun. Kedua produk pinus tersebut diproduksi oleh 9 (sembilan) pabrik gondorukem dan terpentin (PGT) dengan kapasitas maksimum yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan seperangkat strategi peningkatan kinerja Pabrik Gondorukem dan Terpentin Perum Perhutani yang didahului dengan pengukuran skor efisiensi dan/atau inefisiensi tiap-tiap pabrik dengan metode data envelopment analysis (DEA) (Banker et al. 1984), yang kemudian disempurnakan dengan teknik single bootstrap untuk menghilangkan skor bias (Simar & Wilson 1998). Pengumpulan data sekunder yang terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja, energi, dan administrasi umum digunakan sebagai variabel input, sedangkan variabel outputnya adalah total pendapatan dan volume produksi. Secara rata-rata, 27,3% inefisiensi terjadi pada sistem manajemen operasi PGT Perhutani. Untuk mengatasi masalah inefisiensi ini, kuisioner perbandingan berpasangan analytical hierarchy process (AHP) (Saaty, 2008) dibagikan kepada 13 responden ahli untuk menentukan kapabilitas operasional prioritas untuk mengoptimalkan efisiensi kinerja produksi. Beberapa indikator pada dimensi Biaya, Kualitas, Fleksibilitas, Inovasi, dan Keberlanjutan dipilih sebagai alternatif kapabilitas operasional dalam kuisioner AHP. Berdasarkan penilaian semua responden, dimensi Kualitas ditemukan memiliki eigenvector (ω) tertinggi. Dimensi ini terdiri dari dua alternatif, yaitu Kualitas Produk (ω = 0,140) dan Kualitas Proses (ω = 0,124). Oleh karena itu, strategi desain produk dan transformasi proses disarankan untuk meningkatkan kemampuan PGT Perhutani untuk berproduksi dengan biaya lebih rendah, kualitas premium, dan jumlah karyawan yang disesuaikan dengan tata letak dan fasilitas produksi. Strategi-strategi tersebut direkomendasikan untuk melengkapi Pengiriman yang masih dianggap sebagai dimensi kapabilitas operasional terpenting untuk mendukung kinerja tertinggi dari sistem manajemen produksi yang ada saat ini. Oleh karena terbatasnya jenis kajian dengan metodologi serupa di Indonesia, maka penelitian di bidang industri gondorukem dan terpentin milik Perum Perhutani ini dapat dinyatakan sebagai sebuah kebaruan. | id |