Show simple item record

dc.contributor.advisorPravitasari, Andrea Emma
dc.contributor.advisorPanuju, Dyah Retno
dc.contributor.authorNadella, Waode Ghien
dc.date.accessioned2022-08-26T09:25:50Z
dc.date.available2022-08-26T09:25:50Z
dc.date.issued2022
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/114135
dc.description.abstractKota Depok merupakan bagian dari Kawasan Metropolitan Jabodetabek yang mengalami ekspansi perkotaan dan tekanan migrasi penduduk yang cukup tinggi. Namun dalam dekade terakhir terjadi ketidakseimbangan kinerja pembangunan, dimana pembangunan dalam dimensi ekonomi dan sosial cenderung lebih baik dibandingkan kinerja pembangunan dalam dimensi lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan fasilitas ekonomi dan fasilitas pelayanan publik, namun di sisi lain terjadi penurunan kualitas lingkungan. Capaian kinerja pembangunan berkelanjutan Kota Depok dapat diukur pada unit analisis mikro (di tingkat kelurahan), yaitu dengan penghitungan Indeks Keberlanjutan Lokal (IKL). Penelitian ini dilaksanakan di Kota Depok dari bulan Januari 2021 hingga Desember 2021 menggunakan data potensi desa Kota Depok tahun 2018, Dokumen Kecamatan Dalam Angka Kota Depok Tahun 2018, serta peta administrasi Kota Depok. Nilai IKL dianalisis dengan metode factor analysis (FA) menggunakan Statistica 7.0 dan selanjutnya dilakukan pemetaan distribusi spasialnya berdasarkan wilayah administrasi menggunakan ArcGIS. Analisis Asosiasi Spasial nilai IKL untuk masing-masing dimensi dianalisis menggunakan Indeks Moran Global dan LISA (Local Indicator of Spatial Autocorrelation) menggunakan GeoDa, dan tipologi wilayah dianalisis dengan teknik analisis cluster menggunakan Statistica 7.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IKL ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan IKL sosial dan IKL lingkungan. Pola distribusi IKL sosial, ekonomi, dan lingkungan sebagai indikator keberlanjutan lokal tergolong acak (random). Nilai indeks Moran Global untuk dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berturut-turut adalah 0.209, 0.229, dan 0.202 yang menunjukkan adanya autokorelasi positif yang menggambarkan pola spasial mengelompok. Hasil analisis cluster menunjukkan bahwa sebanyak 63% kelurahan masuk kedalam Cluster 1 (memiliki nilai dimensi sosial tergolong sangat rendah, dimensi ekonomi dan lingkangan tergolong sedang), sebanyak 24% kelurahan masuk kedalam Cluster 2 (memiliki nilai dimensi ekonomi tergolong tinggi, dimensi sosial dan lingkungan tergolong rendah), dan sebanyak 13% kelurahan masuk kedalam Cluster 3 (memiliki nilai dimensi sosial tergolong tinggi, dimensi ekonomi dan lingkungan tergolong sedang) dari total jumlah kelurahan yang ada di Kota Depok. Untuk selanjutnya, hasil dari penelitian ini dapat digunakan oleh pemerinta Kota Depok sebagai rekomendasi dalam menyusun kebijakan, rencana, dan/atau program dalam upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan di masing masing kelurahan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Keberlanjutan Pembangunan Kota Depok, Jawa Barat.id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordcluster analysisid
dc.subject.keywordfactor analysisid
dc.subject.keywordGlobal Moran Indexid
dc.subject.keywordLocal Sustainability Indexid
dc.subject.keywordLISAid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record