Show simple item record

dc.contributor.advisorSlamet, R. Margono
dc.contributor.advisorNasoetion, Andi Hakim
dc.contributor.advisorAsngari, Pang S.
dc.contributor.advisorTjitropranoto, Prabowo
dc.contributor.advisorSoedjadi, Boediono
dc.contributor.authorRuwiyanto, Wahyudi
dc.date.accessioned2010-03-24T08:05:21Z
dc.date.available2010-03-24T08:05:21Z
dc.date.issued1988
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/1134
dc.description.abstractPendidikan nonformal dapat digunakan dengan lebih efisien dan efektif untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, untuk segala strata ekonomi, strata sosial dan strata pendidikan, disamping dapat pula untuk ikut memecahkan masalah-masalah kemanusiaan yang mendesak. Kemiskinan yang mencekam sepertiga dari umat manusia saat ini masih meresahkan seluruh bangsa di dunia (Coombs dan Ahmed, 1984:vii). Selo Soemardjan menjelaskan tentang kemiskinan struktural, yang diartikannya sebagai kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka (Alfian, Mely G. Tan, dan Selo Soemardjan, 1980:5). Sumitro Djojohadikusumo menyebutkan bahwa Indonesia berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin dari semula 50 juta orang dalam tahun 1976 menjadi sekitar 33 juta orang atau 21 persen dari 160 juta penduduk dalam pertengahan dasa warsa delapan-puluhan (Harian Kompas, 4 Mei 1988:XVI). Coombs dan Manzoor Ahmed menilai bahwa pendidikan nonformal dapat digunakan untuk ikut memerangi kemiskinan. Apabila proposisi hipotetik itu dapat diterima, maka jumlah warga belajar ("enrollment") di Indonesia, yang perlu dilayani oleh pendidikan nonformal tersebut sebanyak 33 ju-ta orang. Pendidikan nonformal juga dapat didayagunakan untuk i-kut memecahkan masalah pengangguran. Guy Standing menduga bahwa penyebab pengangguran adalah perubahan struktur industri, ketidak-cocokan ketrampilan, ketidak-cocokan geografis, pergeseran demografis, kekakuan institusi, tak bisa dipekerjakan, dan restrukturisasi kapital (Biro Pusat Statis-tik, 1985:37). Ketidak-cocokan ketrampilan tersebut yang terutama disebabkan oleh kelambanan penyesuaian program pendidikan terhadap volatilitas lingkungan sehingga antisipasi pendidikan terhadap kebutuhan nyata ("real need") lingkungannya meleset, oleh Blaug disebut sebagai "vocational.fa-11acy" (1974:21). Ambivalensi dalam konsep pengangguran di negara yang sedang berkembang menimbulkan istilah setengah pengangguran dan pengangguran terbuka. Tingkat pengangguran atas dasar sensus 1980 tercatat sebesar 1,66 persen (Biro Pusat Statis-tik, 1985:37). Payaman J. Simanjuntak menyebutkan bahwa pada tahun 1980 terdapat 35,5 persen dari seluruh angkatan kerja (52 juta orang) atau sekitar 18,3 juta orang tergolong setengah penganggur kentara (bekerja kurang dari 35 jam seming-gu). Jumlah setengah penganggur tak kentara (produktivitas ...
dc.languageid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titlePengaruh Faktor-Faktor Dinamika Organisasi Lembaga Pendidikan Karya Terhadap Manfaat Sosioekonomi Warga Belajarid
dc.typeDissertations
dc.subject.keywordPendidikan Nonformal
dc.subject.keywordKemiskinan Struktural
dc.subject.keywordPengangguran
dc.subject.keywordKualitas Hidup


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record