Show simple item record

dc.contributor.advisorFariyanti, Anna
dc.contributor.advisorTinaprilla, Netti
dc.contributor.authorNadhifah, Fairuz
dc.date.accessioned2022-08-11T07:33:54Z
dc.date.available2022-08-11T07:33:54Z
dc.date.issued2022-08-11
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/113453
dc.description.abstractKabupaten Bogor merupakan salah satu sentra produksi jamur di Provinsi Jawa Barat khususnya di Kecamatan Ciawi, Kecamatan Cisarua, dan Kecamatan Megamendung. Akan tetapi, produktivitasnya masih lebih rendah dibandingkan dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur. Rendahnya produktivitas jamur dapat dipengaruhi oleh faktor internal (faktor yang dapat dikendalikan oleh petani seperti alokasi penggunaan sarana input produksi) dan faktor eksternal (faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh petani seperti serangan hama, penyakit, dan perubahan cuaca yang tidak menentu). Rendahnya produktivitas jamur dari kedua faktor tersebut dapat memengaruhi biaya yang dikeluarkan oleh petani dan keuntungan yang diperoleh petani, sehingga dibutuhkan strategi manajemen risiko yang baik dalam usahatani jamur. Varietas jamur yang paling banyak dipilih untuk dibudidayakan oleh petani adalah varietas tiram putih karena memiliki keunggulan dapat tumbuh lebih baik dan hasil output produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan varietas tiram lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) menganalisis pengaruh faktor-faktor produksi terhadap risiko produksi usahatani jamur tiram putih, (2) menganalisis pendapatan usahatani jamur tiram putih dengan adanya risiko produksi perubahan musim, dan (3) menganalisis strategi manajemen risiko yang dilakukan petani jamur tiram putih dalam menghadapi risiko produksi jamur tiram putih. Penelitian dilakukan di tiga kecamatan Kabupaten Bogor, yaitu Kecamatan Ciawi, Cisarua, dan Megamendung. Data yang digunakan adalah data cross section dengan teknik pengambilan sampel secara purposive method dan snowball sampling sehingga diperoleh 61 responden petani jamur tiram putih yang melakukan usahatani pada musim kemarau (April hingga Juli 2019) dan musim hujan (Oktober hingga Januari 2020). Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi langsung, dan studi literatur. Pengolahan data untuk tujuan penelitian yang pertama menggunakan software eviews, tujuan kedua menggunakan Microsoft Excel dan software SPSS IBM Statistics 24.0, dan tujuan tiga menggunakan Microsoft Excel. Model analisis data untuk menganalisis fungsi risiko produksi jamur tiram putih menggunakan Model Just and Pope. Perhitungan pendapatan dengan memasukkan unsur risiko perubahan musim menggunakan perhitungan expected return dan untuk strategi manajemen risiko menggunakan analisis strategi risiko strategi preventif, mitigasi, dan risk coping. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa faktor produksi yang bersifat meningkatkan risiko produksi (risk inducing factor) secara signifikan adalah dummy musim (musim hujan), baglog, dan tenaga kerja, sedangkan faktor produksi yang bersifat menurunkan risiko produksi (risk reducing factor) secara signifikan pada usahatani jamur tiram putih adalah air. Hasil analisis pendapatan usahatani pada musim kemarau lebih rendah daripada pada saat musim hujan, namun nilai expected return selama satu tahun tetap bernilai positif. Petani jamur tiram putih telah melakukan tiga strategi manajemen risiko produksi usahatani jamur tiram putih, yaitu strategi preventif, mitigasi, dan risk coping. Implikasi kebijakan berdasarkan hasil penelitian ini yaitu petani perlu memerhatikan alokasi penggunaan sarana input produksi terutama penggunaan kapur dan air yang lebih optimal untuk menghasilkan output produksi 30% dari berat baglog yang digunakan, petani perlu memerhatikan peningkatan penggunaan input baglog dikarenakan jika baglog terlalu padat tanpa penambahan luas kumbung maka dapat menyebabkan output produksi tidak optimal, petani perlu melakukan pengawasan terhadap tenaga kerja supaya manajemen kumbung dapat terkendali, dan petani disarankan lebih memerhatikan penggunaan obat anti hama saat budidaya jamur tiram putih pada musim hujan dikarenakan adanya peningkatan risiko produksi saat musim hujan. Peran pemerintah melalui UPTD untuk memberikan penyuluhan mengenai budidaya jamur tiram yang baik dalam penggunaan input produksi untuk menghasilkan output produksi yang lebih optimal sehingga dapat mengurangi persentase kematian baglog akibat serangan hama kontaminasi penyakit.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleRisiko Produksi dan Pendapatan Usahatani Jamur Tiram Putih di Kabupaten Bogorid
dc.title.alternativeRisk Production and Farm Income of White Oyster Mushroom Farming in Bogor Regencyid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordJust and Popeid
dc.subject.keywordpendapatan usahataniid
dc.subject.keywordpenggunaan input produksiid
dc.subject.keywordperubahan musimid
dc.subject.keywordstrategi manajemen risikoid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record