Analisis Kinerja Kemitraan Perkebunan Kelapa Sawit Antara Petani Plasma Dengan PT.NIKP Di Kabupaten Kutai Timur
Date
2022-08-02Author
Munirudin, Ali Lutfi
Winandi, Ratna
Krisnamurthi, Bayu
Metadata
Show full item recordAbstract
Kelapa sawit merupakan komoditi subsektor perkebunan yang mendominasi
wilayah kabupaten Kutai Timur dimana 96% adalah kelapa sawit dari total jenis
tanaman perkebunan lainnya. Perkebunan kelapa sawit memiliki peran penting
dalam perekonomian wilayah ini. Berdasarkan data BPS Kabupaten Kutai Timur
(2018) sektor perkebunan menyerap tenaga kerja terbanyak yaitu sebesar 30.76%
dan perkebunan kelapa sawit menyumbang PDRB sebesar 8.71% dari total PDRB
Kabupaten Kutai Timur. Terdapat dua jenis pengusahaan perkebunan kelapa sawit
di daerah ini yaitu perkebunan sawit rakyat dan perkebunan besar swasta.
Perkebunan besar swasta memiliki luas areal terluas dan diikuti oleh perkebunan
rakyat. Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (2018) luas
areal perkebunan kelapa sawit selalu mengalami peningkatan dimana luas
perkebunan besar swasta pada tahun 2014 sebesar 328 439 Ha meningkat pada
tahun 2018 sebesar 372 882 Ha sedangkan untuk perkebunan rakyat pada tahun
2014 sebesar 92 946 Ha meningkat pada tahun 2018 sebesar 100 126 Ha. Namun
jika dilihat dari produktivitas kelapa sawit perkebunan besar swasta lebih tinggi
dibandingkan perkebunan rakyat hal ini dikarenakan terdapat banyak keterbatasan
perkebunan rakyat. penyebab rendahnya produktivitas kelapa sawit perkebunan
rakyat adalah pengetahuan petani yang masih rendah terkait pengelolaan
perkebunan kelapa sawit, penggunaan sarana produksi (pupuk, bibit, dan pestisida)
yang masih rendah hal ini terjadi karena terkendala modal dan akses untuk
mendapatkan sarana produksi tersebut. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan
dengan meningkatkan penggunaan input produksi, penerapan teknologi baru,
peningkatan manajemen kelembagaan, kelembagaan yang dimaksud adalah
kemitraan.
Tujuan dari kemitraan ini adalah pemberdayaan usaha perkebunan rakyat
agar petani mendapatkan kemudahan dari penyediaan input produksi, adanya
jaminan pasar, dan peningkatan produksi dan pendapatan petani supaya
meminimalisir ketimpangan ekonomi antara perusahaan dan petani di areal lokasi
perusahaan. Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (2014) menilai kinerja
perusahaan perkebunan kelapa sawit salah satu perusahaan yang dinilai kinerjanya
adalah PT.NIKP aspek penilaian meliputi antara lain tahap pembangunan seperti
legalitas, sistem manajemen, sistem penyesuaian hak atas tanah, sistem realisasi
pembangunan kebun inti dan plasma atau unit pengolahan, sistem penumbuhan dan
pemberdayaan masyarakat/kemitraan. Berdasarkan hasil yang ditemukan bahwa
PT.NIKP mendapatkan nilai E (kurang sekali). Kemitraan yang dilaksanakan telah
berlangsung dari tahun 2009 atau sudah berjalan selama 10 tahun sejak perusahaan
melakukan tanam perdananya. Pada umur tanaman kelapa sawit yang menginjak
umur 10 tahun dalam beberapa litelatur budidaya tanaman kelapa sawit menyatakan
bahwa produktivitas kelapa sawit sedang mengalami peningkatan tinggi. Hal ini
yang menyebabkan perlunya adanya kemitraan yang solid antara perusahaan dan
petani agar asas dalam kemitraan saling menguntungkan, saling menghargai, dan
saling memperkuat dapat tercapai sesuai dengan harapan.Penelitian Analisis Kinerja Kemitraan Perkebunan Kelapa Sawit Antara
Petani Plasma Dengan PT.NIKP Di Kabupaten Kutai Timur bertujuan tujuan untuk
mengidentifikasi mekanisme pelaksanaan kemitraan antara petani plasma dengan
PT.NIKP, Menganalisis Faktor-faktor apasaja yang mendorong petani plasma
untuk bermitra, Menganalisis kinerja kemitraan antara petani plasma dengan
PT.NIKP.
Hasil penelitian menujukan bahwa bentuk pola kemitraan yang dilakukan
oleh petani plasma dengan PT.NIKP adalah Kredit Koperasi Primer untuk Anggota
(KKPA). KKPA merupakan kemitraan dengan bentuk skema pemberian kredit
yang dilakukan oleh perusahaan melalui Bank. Pada pola ini koperasi sebagai
berperan untuk mengadministrasi, memonitoring jalannya kemitraan dan
pengembalian kredit sedangkan PT.NIKP sebagai pembimbing dalam teknis
budidaya kelapa sawit, pemberi sarana produksi, dan menjamin untuk menerima
hasil produk petani plasma, sementara petani meyediakan lahan dan tenaga kerja.
Sistem pembayaran pinjaman dimana hasil panen dari kebun kemitraan langsung
dipotong oleh koperasi kelapa sawit plasma sari sesuai dengan jumlah pinjaman
investasi pembangunan kebun kemitraan. Sejauh ini kemitraan telah memberikan
dampak positif terhadap kesejahteraan petani plasma terjadi peningkatan
pendapatan, kemudahan dalam layanan kredit, dan perusahaan dan koperasi
berkomitmen terhadap kesejahteraan petani plasma. Faktor pendorong petani untuk
bermitra pengalaman bertani kelapa sawit, umur petani, luas lahan, dan pembinaan.
Petani yang memiliki pengalaman bertani kelapa sawit lebih rendah berpeluang
untuk ikut dalam kemitraan. Petani yang memiliki usia lebih tinggi berpeluang
untuk ikut dalam kemitraan. Petani yang memiliki luas lahan yang lebih luas
berpeluang untuk ikut dalam kemitraan. Petani yang mendapatkan pembinaan
berpeluang untuk ikut dalam kemitraan. Kinerja kemitraan dilihat dari aspek
ekonomi yaitu produktivitas TBS (Kg), harga (Rp), DAN Pendapatan (Rp).
Berdasarkan hasil analisis bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara
usahatani petani mitra dan non mitra. petani mitra mendapatkan produktivitas TBS,
biaya variabel, harga, dan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan petani non
mitra. Usahatani kelapa sawit petani mitra lebih unggul berdasarkan nilai R/C rasio
yang lebih tinggi.
Collections
- MT - Economic and Management [3197]
