| dc.description.abstract | Industri pengolahan makanan merupakan bagian penting dari perekonomian nasional. Sektor ini terdiri dari dominasi usaha mikro dan kecil yang ditargetkan dapat tumbuh lebih besar sehingga manfaat ekonomi akan lebih baik. Namun, peningkatan ukuran usaha tidak selalu menguntungkan. Beberapa penelitian masih menunjukkan hasil yang berbeda terkait pengaruh kenaikan ukuran usaha terhadap profitabilitas dan efisiensi usaha. Bahkan, peningkatan ukuran usaha justru dapat meningkatkan biaya produksi sehingga usaha semakin tidak efisien dalam keuntungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi economies of size dan menganalisis pengaruh antara peningkatan ukuran usaha pada Usaha Mikro dan Kecil (UMK) sektor pengolahan makanan terhadap efisiensi keuntungan usahanya.
Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survei Industri Mikro dan Kecil Tahunan 2015 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada bidang pengolahan makanan. Kelompok usaha yang dianalisis meliputi subsektor usaha dengan nomor KBLI 10392 (industri pengolahan tahu), 10391 (industri pengolahan tempe), 10710 (industri pengolahan kue kering). dan 10792 (industri pengolahan kue basah). Jumlah sampel data yang digunakan dari masing-masing jenis usaha adalah 46 usaha tahu, 176 usaha tempe, 118 industri kue kering, dan 100 industri kue basah. Metode yang digunakan adalah Data Envelopment Analysis (DEA) dengan orientasi output Variable Return to Scale (VRS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan ukuran usaha menentukan perubahan biaya produksi rata-rata dan efisiensi keuntungan usahanya. Peningkatan ukuran omset dan aset usaha dapat menyebabkan peningkatan efisiensi keuntungan secara signifikan dan penurunan pada biaya produksi rata-ratanya. Namun, peningkatan ukuran usaha melalui jam kerja justru dapat menurunkan efisiensi keuntungan usaha secara signifikan. Selain itu, peningkatan jumlah tenaga kerja juga menyebabkan biaya produksi rata-rata pada industri kue kering dan kue basah cenderung naik. Akan tetapi, peningkatan tenaga kerja justru menyebabkan biaya produksi rata-rata pada industri tahu dan tempe turun secara tidak signifikan. | id |