| dc.description.abstract | Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui faktor-faktor apa yang berpengaruh dalam upaya menumbuhkan dan mengembangkan motivasi masyarakat, dan bagaimana hubungan antar faktor yang berpengaruh sehingga melahirkan peran serta masyarakat dalam penghijauan. Selain itu, untuk mencari cara pengembangan peran serta masyarakat dalam mencapai tujuan penghijauan.
Lokasi daerah penelitian adalah di sub-DAS Jeneberang Hulu di Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan dari bulan September tahun 1986 sampai dengan bulan September tahun 1987. Ada lima desa yang menjadi daerah contoh yang ditentukan secara purposif, yaitu: Desa Parigi dan Desa Jonjo di Kecamatan Tinggimoncong, dan Desa Sapaya, Desa Bontomanai, Desa Buakang di Kecamatan Bungaya. Kelima desa tersebut karena kekritisan lahannya mendapat prioritas untuk direhabilitasi melalui proyek penghijauan. Kelima desa tersebut memiliki kondisi biogeofisik yang hampir sama.
Responden tediri dari dua kelompok yaitu kelompok responden petani anggota kelompok tani penghijauan sebanyak 200 orang yang dipilih secara acak sederhana, dan kelompok responden aparat pemerintah sebanyak 25 orang, yang terdiri atas PLP dan PMP 15 orang serta 10 orang pejabat yang dipilih secara purposif. Jumlah responden adalah 225 orang.
Pengumpulan data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan responden dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan, dan hasil pengamatan di lapang secara langsung oleh peneliti. Data sekunder diperoleh dari data yang telah dikumpulkan lembaga atau instansi tertentu mulai dari tingkat desa sampai tingkat nasional.
Model analisis yang dipergunakan ialah: analisis deskriptif, analisis korelasi, analisis jalur, analisis regresi linier ganda, dan analisis ragam.
Unit analisis adalah kepala keluarga petani yang menjadi anggota kelompok tani penghijauan. Pengolahan data dilaksanakan di Unit Komputer IKIP Ujung Pandang dengan menggunakan program SPSS/PC+ yang dijalankan pada komputer IBM/PC.
Kegiatan proyek penghijauan dilaksanakan oleh pemerintah lebih bersifat penyuluhan agar masyarakat dapat memahami arti dan manfaat penghijauan, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya, sehingga timbul rangsangan untuk berperan serta dalam penghijauan secara swadaya dengn mempergunakan teknologi RLKT.
Berbagai unit percontohan seperti Unit Pelestarian Sumbar Daya Alam (UPSA) dan Usaha Pertanian Menetap (UPM)) telah dibuat dengan maksud memberikan contoh cara bertani yang menguntungkan sekaligus memperbaiki lingkungan.
Pada tahun-tahun permulaan (tahun 1960-an) gerakan penghijauan sasaran utamanya adalah mananami lahan terlantar di luar kawasan hutan, bukan milik masyarakat (lahan negara). Seluruh kegiatan penyediaan bibit, pembuatan teras, penanaman, dan pemeliharaan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah dengan melibatkan masyarakat setempat. Keterlibatan masyarakat petani dalam kegiatan ini selain menciptakan kesempatan kerja, yang penting merupakan tempat berlatih petani dalam menerapkan teknologi RLKT. | |