Show simple item record

dc.contributor.advisorAmrozi, Amrozi
dc.contributor.advisorTumbelaka, Ligaya ITA
dc.contributor.authorRama, Kiki Amalia
dc.date.accessioned2021-10-08T02:18:08Z
dc.date.available2021-10-08T02:18:08Z
dc.date.issued2021-10-05
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/109593
dc.description.abstractDomba garut merupakan domba asli Indonesia dan salah satu plasma nutfah yang sangat potensial untuk dikembangkan produktivitasnya. Siklus estrus domba garut dewasa telah diteliti namun untuk karakteristik siklus estrus domba garut dara belum diketahui. Tujuan penelitian mengetahui usia perkawinan domba garut dara berdasarkan karakteristik siklus estrus domba garut dara dengan metode pengamatan tingkah laku estrus, sitologi vagina, konsentrasi hormon progesteron, dan gambaran USG ovarium. Penelitian ini menggunakan 5 ekor domba garut dara dengan usia 6-7 bulan dan bobot badan antara 17-21 Kg. Pengambilan data tingkah laku, sitologi vagina, ultrasonografi ovarium dan analsisi hormon P4 dilakukan selama 2 siklus dengan interval 3 hari sekali. Pengambilan data dimulai pukul 07.00 WIB – 12.00 WIB. Sinkronisasi estrus dan Inseminasi Buatan (IB) dilakukan setelah mendapatkan hasil pengamatan siklus estrus. Tingkah laku estrus domba garut dara tidak teramati dengan jelas adanya perubahan pada alat kelamin luar. Hasil sitologi vagina sel superfisial mencapai persentase tertnggi pada periode estrus sebesar 50,08±11,57 % dengan diameter folikel ovulatorik 0,61±0,02 cm dan konsentrasi hormon P4 pada level terendah 3,86±1,62 ng/mL. Setelah ovulasi terjadi penurunan sel superfisial dan peningkatan sel parabasal dan sel intermediat. Persentase tertinggi sel parabasal dan sel intermediat sampai fase luteal dengan diameter CL 0,822±0,194 cm dan konsentrasi hormon P4 mencapai level maksimal 24,49±13,27 ng/mL. Pembuktian untuk waktu perkawinan pada domba dara, inseminasi buatan dilakukan mengikuti sinkronisasi berahi dengan PGF2α. . Penyuntikan hormon PGF2α diberikan pada 14 ekor domba garut betina yang terdiri dari 11 ekor domba garut dara dan 3 ekor domba garut induk sebagai kontrol. Penyuntikan PGF2α dilakukan sebanyak dua kali dengan interval 11 hari. Kemudian dilakukan Intraservikal Inseminasi Buatan (IB) sebanyak 2 kali dihari ke-13 dan 14 pada pukul 15.00-15.30 WIB. Pengamatan kebuntingan dilakukan dengan ultrasonografi setelah usia kebuntingan 25 hari. Berdasarkan hasil pengamatan siklus estrus, domba garut dara dapat dikawinkan pada usia 6-7 dan bobot badan antara 17-21 kg, tingkat keberhasilan kebuntingan sebanyak 63,63%. Hasil penelitian ini menunjukka bahwa melalui pengamatan gambaran sel epitel vagina, konsentrasi hormon progesteron, serta hubungannya dengan perkembangan folikel dan CL dapat menentukan waktu perkawinan awal dari domba garut.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleKarakteristik Siklus Estrus dan Tingkat Keberhasilan Perkawinan Domba Garut Daraid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordInseminasi Buatanid
dc.subject.keywordsitologi vaginaid
dc.subject.keywordkonsentrasi progesteronid
dc.subject.keywordultrasonografiid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record