Show simple item record

dc.contributor.advisorSunarminto, Tutut
dc.contributor.advisorArief, Harnios
dc.contributor.authorAthar, Atri Astuti Listiya
dc.date.accessioned2021-10-01T06:02:35Z
dc.date.available2021-10-01T06:02:35Z
dc.date.issued2021-09-30
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/109504
dc.description.abstractPasawahan Village and Bantaragung Village are buffer areas in the Gunung Ciremai National Park (TNGC) area. Communities in buffer areas can take opportunities to improve their welfare. Craft art is one that can be developed by the community to produce souvenirs that can be used as souvenirs for visitors. The data shows that the craft is the third largest contributor to economic value after culinary and fashion in the tourism sub-sector. This study aims to identify and analyze the knowledge and skills of the community. Identify and analyze the readiness of various parties to synergize in the development of craft ecotourism. Develop programs and strategies for developing craft ecotourism based on visitor interest and the willingness of crafts in the community so that they can integrate with TNGC natural tourism. The methods used in this research are interviews, questionnaires, direct observation, and literature study. Data were analyzed using a Likert scale and SWOT analysis. Pasawahan Village and Bantaragung Village have a variety of craft products that can be developed. Being in a buffer zone, the community can get a greater opportunity to make handicrafts as tourist attractions and souvenirs. The development strategy of the two villages is to increase the knowledge and skills of the community as well as to maintain and develop the existing potential.id
dc.description.abstractDesa Pasawahan dan Desa Bantaragung merupakan wilayah penyangga yang ada di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Masyarakat di wilayah penyangga dapat mengambil peluang untuk meningkatkan kesejahteraannya. Seni kriya merupakan salah satu yang bisa dikembangkan masyarakat untuk memproduksi souvenir yang dapat dijadikan oleholeh bagi pengunjung. Data menunjukkan bahwa seni kriya merupakan penyumbang nilai ekonomi terbesar ketiga setelah kuliner dan fashion pada sub sektor pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengetahuan serta keterampilan masyarakat. Mengindentifikasi dan menganalisis kesiapan berbagai pihak untuk bersinergi dalam pengembangan ekowisata kriya. Menyusun program serta strategi pengembangan ekowisata kriya berdasarkan minat pengunjung dan kesediaan kriya di masyarakat sehingga dapat berintegrasi dengan wisata alam TNGC. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, kuesioner, observasi langsung, dan studi pustaka. Data dianalisis menggunakan Skala Likert dan analisis SWOT. Desa Pasawahan dan Desa Bantaragung memiliki beragam produk kriya yang bisa dikembangkan. Berada di wilayah penyangga masyarakat dapat mendapatkan peluang lebih besar untuk menjadikan kriya sebagai atraksi wisata dan oleh-oleh. Strategi pengembangan kedua desa ialah dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat serta mempertahankan dan mengembangkan potensi yang ada.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePengembangan Desa Wisata Kriya di Wilayah Penyangga Taman Nasional Gunung Ciremaiid
dc.title.alternativeDevelopment of a Craft Tourism Village in the Buffer Area Gunung Ciremai National Parkid
dc.title.alternativeDevelopment of a Craft Tourism Village in the Buffer Area Gunung Ciremai National Parkid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordDesa Bantaragungid
dc.subject.keywordDesa Pasawahanid
dc.subject.keywordSeni Kriyaid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record