Show simple item record

dc.contributor.advisorBarus, Baba
dc.contributor.advisorYulianto, Gatot
dc.contributor.authorPalem, Bobby A.
dc.date.accessioned2021-08-29T00:30:14Z
dc.date.available2021-08-29T00:30:14Z
dc.date.issued2021-08-28
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/108900
dc.description.abstractKawasan Strategis Kabupaten (KSK) Koridor Luwuk-Bonebobakal merupakan wilayah di Kabupaten Banggai yang memiliki potensi sektor perikanan yang cukup besar. Besarnya potensi sumber daya sektor perikanan menjadikan pembangunan wilayah berbasis sektor perikanan begitu penting sehingga sektor perikanan diharapkan dapat menjadi motor penggerak pembangunan di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi tingkat perkembangan wilayah; (2) menduga potensi sumber daya ikan; (3) menentukan jalur penangkapan ikan dan penempatan alat penangkapan ikan yang sesuai; (4) membandingkan aliran aktual dan potensial pemasaran hasil perikanan tangkap; dan (5) merumuskan rekomendasi pengembangan wilayah berbasis sektor perikanan. Analisis yang digunakan adalah analisis skalogram, analisis surplus produksi, studi literatur, analisis regresi linier berganda, dan analisis A’WOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana dan prasarana penunjang pengembangan sektor perikanan di wilayah ini relatif masih sangat minim. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah wilayah pesisir yang berada pada Hirarki 1 hanya sebanyak 3 desa/kelurahan yaitu Kelurahan Karaton, Kelurahan Kilongan dan Desa Biak. Hasil perhitungan pendugaan potensi sumber daya ikan menunjukkan bahwa pemanfaatan ikan pelagis kecil dan ikan pelagis besar pada tahun 2020 sudah berada dalam status fully-exploited sedangkan status pemanfaatan ikan demersal dan ikan karang berada dalam status moderate. Untuk menghindari konflik wilayah penangkapan ikan maka perahu kecil tanpa motor disarankan untuk beroperasi di jalur penangkapan IA (0-2 mil), perahu motor berukuran ≤ 5 GT disarankan untuk beroperasi di jalur penangkapan IB (2-4 mil) dan jalur penangkapan II (4-12 mil) sedangkan kapal berukuran 5-10 GT disarankan untuk beroperasi di jalur penangkapan II (4-12 mil) sesuai dengan alat penangkapan ikan yang diperbolehkan di setiap jalur penangkapan ikan. Hasil tangkapan yang diperoleh nelayan dengan menggunakan perahu ≤ 5 GT saat ini dipasarkan secara lokal. Hal ini menyebabkan harga jual ikan menjadi rendah karena harga jual sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat di wilayah tersebut. Peningkatan ukuran mesin perahu merupakan salah satu isu yang sangat penting terkait peningkatan hasil tangkapan sedangkan harga jual ikan dan hasil tangkapan ikan memberikan pengaruh yang besar dan menjadi isu yang sangat penting terkait peningkatan pendapatan nelayan di wilayah ini. Strategi yang direkomendasikan dalam pengembangan KSK Koridor Luwuk-Bonebobakal berbasis sektor perikanan yaitu (1) peningkatan produksi ikan demersal dan ikan karang sesuai dengan wilayah penangkapan dan alat tangkap yang diperbolehkan; (2) membentuk koperasi nelayan/KUB pengumpul lokal dan menjalin kerjasama dengan UPI; dan (3) Pengembangan perahu fiber 3-4 GT di setiap kelompok nelayan.id
dc.description.sponsorshipPusbindiklatren Bappenas RIid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.titlePengembangan Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Koridor Luwuk-Bonebobakal Berbasis Sektor Perikanan (Studi Kasus di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah)id
dc.title.alternativeDevelopment of Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Koridor Luwuk-Bonebobakal Based on Fisheries Sector (Case Study in Banggai Regency, Central Sulawesi Province)id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordBanggaiid
dc.subject.keywordpengembangan wilayahid
dc.subject.keywordinfrastrukturid
dc.subject.keywordperikananid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record