Show simple item record

dc.contributor.advisorArifin, Hadi Susilo
dc.contributor.advisorKaswanto
dc.contributor.authorNatawiguna, I Made Pradnyan Dana
dc.date.accessioned2021-08-06T03:57:55Z
dc.date.available2021-08-06T03:57:55Z
dc.date.issued2021
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/108180
dc.description.abstractAktivitas pariwisata berdampak pada perubahan penggunaan lahan akibat pembangunan sarana dan akomodasi pariwisata. Salah satunya perubahan fungsi telajakan dari ruang tumbuh untuk tanaman ritual menjadi ruang terbangun. Hilangnya ragam tanaman ritual menyebabkan kurangnya kelengkapan sarana ritual sehingga berdampak pada keberlangsungan tradisi dan budaya di Bali. Peran masyarakat dalam memanfaatkan kembali ruang telajakan sebagai ruang tumbuh tanaman ritual perlu ditingkatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah: memetakan karakteristik telajakan di Desa Canggu dan Desa Penglipuran, menyusun model pengembangan struktur telajakan yang mendukung keberadaan tanaman ritual, memetakan persepsi dan preferensi masyarakat terkait telajakan dan menghasilkan sistem pengelolaan telajakan yang mendukung keberadaan tanaman ritual. Hasil pengamatan menunjukkan struktur pembentuk telajakan dapat berupa kombinasi dari parit terbuka, parit tertutup, jalur pejalan kaki, lahan terbuka, rumput, dan dinding pagar. Ada perbedaan karakteristik telajakan yang ditemukan pada kedua desa. Sebelas struktur telajakan terdapat pada Desa Canggu dan satu struktur seragam ditemukan pada Desa Penglipuran. Kedua desa memiliki keragaman tanaman yang tinggi dengan nilai indeks keragaman di Desa Canggu 3.88 dan Desa Penglipuan 4.12. Keberadaan tanaman ritual yang ditemukan di telajakan Desa Canggu (45.4%) lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman ritual yang ditemukan di Desa Penglipuran (56.4%). Pemanfaatan tanaman telajakan oleh masyarakat sejalan dengan motivasi memiliki telajakan yaitu untuk menunjang fungsi sosial spiritual dan fungsi keindahan lingkungan. Terkait dengan preferensi tanaman masyarakat cenderung memilih kombinasi rumput dengan beragam jenis tanaman. Pengembangan model struktur telajakan berasal dari 11 konfigurasi struktur yang ditemukan di Desa Canggu disesuaikan dengan fungsi bangunan hunian, keagamaan, usaha, dan sosial budaya. Pengembangan model dapat menciptakan ruang tanam bagi tanaman ritual yang mampu beradaptasi dengan kemajuan pariwisata tanpa menghilangkan falsafah ruang tradisional Bali. Sistem pengelolaan telajakan pendukung tanaman ritual memperhatikan 4 aspek yaitu model struktur STc, jenis tanaman ritual, fungsi bangunan dan status kepemilikan. Rencana pengelolaan telajakan pendukung keberadaan tanaman ritual berhasil disusun dengan penyesuaian pada fungsi bangunan dan intensitas pemeliharaan.id
dc.description.abstractTourism activities have an impact on land-use changes due to the construction of tourism facilities and accommodation. Changes function of telajakan from green space to a built area decrease the space for ritual plants. The loss of a variety of ritual plants causes the lack of completeness of ritual facilities. It has an impact on the sustainability of traditions and culture in Bali. The role of the community in reusing the telajakan space as a space for growing ritual plants needs to be improved. The aims of this study were: to mapping the characteristics of telajakan in Canggu Village and Penglipuran Village, develop a model for developing the structure of telajakan that supports the existence of ritual plants, mapping community perceptions and preferences related to telajakan, and producing a telajakan management system that supports the presence of ritual plants. The observations show that the structure of the telajakan can be a combination of an open ditch, covered ditch, pedestrians track, open ground, grass, and fence wall. There are differences in the characteristics of telajakan found in the two villages. Eleven telajakan structures are found in Canggu, and one uniform structure is located in Penglipuran. Both villages have high plant diversity with a diversity index value of 3.88 in Canggu and 4.12 in Penglipuan. The presence of ritual plants found in the telajakan of Canggu (45.4%) was less than the ritual plants found in Penglipuran (56.4%). The use of telajakan plants by the community is in line with the motivation to have telajakan, namely to support social-spiritual functions and the function of environmental aesthetic. Related to plant preferences, people tend to choose a combination of grass with various types of plants. The development of the model of the telajakan structure comes from 11 structural configurations found in Canggu, which are adapted to the functions of residential, religious, business, and socio-cultural buildings. The development of the model created a planting space for ritual plants that are adaptable to tourism activity without disregard the traditional Balinese philosophy. The management system of telajakan followed four aspects, namely the STc structure model, types of ritual plants, building functions, and ownership status. The management plan of telajakan supporting the existence of ritual plants has been successfully prepared with adjustments to the building function and the intensity of maintenance.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleStrategi Pengelolaan Telajakan sebagai Sarana Pendukung Keberadaan Tanaman Ritual di Desa Canggu dan Desa Penglipuran Baliid
dc.title.alternativeManagement Strategy of Telajakan to Support the Existence of Ritual Plants in Canggu Village and Penglipuran Village Baliid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordtelajakanid
dc.subject.keywordtanaman ritualid
dc.subject.keywordCangguid
dc.subject.keywordPenglipuranid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record