Biologi Reproduksi Kerbau Lumpur (Bubalus Bubalis) Ditinjau dari Segi Kesuburan, Hormon Kelamin Morfologi Kelenjar Hipofisa dan Spermatozoa

Date
1983Author
Hardjopranjoto, Soehartojo
Partodihardjo, Soebadi
Tanudimadja, Kusmat
Sukra, Juhara
Mozes R. Toelihere
Metadata
Show full item recordAbstract
Penelitian ini di1akukan dengan tujuan untuk mengetahui biologi reproduksi kerbau lumpur (Bubalus bubalis) di Indonesia melalui satu rangkaian penelitian yang dilakukan sejak tahun 1979 sampai 1980 yang dilakukan baik di lapangan maupun di laboratorium. Penelitian pertama dilakukan untuk mencari keterangan tentang aspek tatalaksana peternakan dengan mengisi kuesioner dan wawancara pada 308 peternak responden di Jawa Timur dan pemeriksaan rektal pada 325 ekor kerbau lumpur betina dewasa. Peternak yang merniliki dua ekor kerbau, memelihara ternaknya dengan tujuan utama sebagai sumber tenaga kerja di sawah, dimana dalam satu hari ternaknya dikerjakan selama 3.7 jam dan dalam satu tahun selama 4.85 bulan. Pemeliharaan dilakukan dengan mengandangkan secara terus menerus, kecuali pada waktu dikerjakan di sawah. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui biologi reproduksi kerbau lumpur (Bubalus bubalis) di Indonesia melalui satu rangkaian penelitian yang dilakukan sejak tahun 1979 sampai 1980 yang dilakukan baik di lapangan maupun di laboratorium.Penelitian pertama dilakukan untuk mencari keterangan tentang aspek tatalaksana peternakan dengan mengisi kuesioner dan wawancara pada 308 peternak responden di Jawa Timur dan pemeriksaan rektal pada 325 ekor kerbau lumpur betina dewasa. Peternak yang memiliki dua ekor kerbau, memelihara ternaknya dengan tujuan utama sebagai sumber tenaga kerja di sawah, dimana dalam satu hari ternaknya dikerjakan selama 3.7 jam dan dalam satu tahun selama 4.85 bulan. Pemeliharaan dilakukan dengan mengandangkan secara terus menerus, kecuali pada waktu dikerjakan di sawah. Makanan berupa rumput sabitan diberikan dalam jumlah dan kualitas yang tergantung musim. Kemampuan zootehnik peternak belum memadai, ini tercermin dari lebih separoh jumlah peternak belum mengetahui tanda-tanda birahi betina atau tidak mengadakan pengawasan terhadap perkawinan ternak betinanya. Pejantan dewasa agak langka dengan kesuburan dan kualitas air mani yang masih diragukan. ...

