Show simple item record

dc.contributor.authorDeni, Soeryo
dc.date.accessioned2021-07-15T09:55:17Z
dc.date.available2021-07-15T09:55:17Z
dc.date.issued2021-01-28
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/107470
dc.description.abstractBerdasarkan data resmi yang dikeluarkan oleh Ditjen KSDAE tahun 2020, luas areal terbuka di kawasan konservasi Indonesia telah mencapai 1.834.338,05 Ha dari luasan total kawasan konservasi 22.853.363,55 Ha atau 8,03% kawasan konservasi telah mengalami degradasi dan deforestasi oleh manusia yang dimanfaatkan menjadi tanaman semusim, perkebunan dan permukiman. Dari aspek sosial, lahan terbuka di kawasan konservasi terjadi akibat bentuk hubungan sosial di antara petugas Taman Nasional, petani, swasta atau orang dan kelompok berkepentingan dimana akses dan eksklusi dijalankan dengan motif-motif tertentu. Penelitian ini mengambil dua studi kasus di Taman Nasional Gunung Ciremai dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan karakteristik penanganan lahan terbuka yang berbeda. Taman Nasional Gunung Ciremai telah berhasil melakukan eksklusi pada petani penggarap dan mulai menata lahan terbuka untuk pemulihan kawasan sedangkan Taman Nasional Gn Gede Pangrango (Kasus di Desa Sukatani) tidak berhasil melakukan eksklusi pada petani. Penelitian ini ingin menjawab beberapa pertanyaan yang meliputi : 1) Bagaimana bentuk-bentuk hubungan sosial (tingkat relational embeddedness) di kedua Taman Nasional ini? bagaimana hubungan relational ini ada di dalam dan atau membentuk struktur jaringan sosial yang berdampak pada akses? ; 2) Motif dan pertukaran seperti apa yang dioperasikan? bagaimana tipe-tipe hubungan sosial berdampak pada pola-pola pertukaran? bagaimana pola-pola pertukaran ini bekerja sebagai mekanisme akses? ; 3) Bagaimana jaringan sosial yang tertanam (embedded) berperan dalam mekanisme akses? bagaimana struktur sosial yang tertanam dalam masyarakat (norma dan sistem nilai) beroperasi membentukan tindakan untuk akses. Penelitian ini menggunakan pendekatan dua teori besar yaitu akses dan property disatu sisi serta tindakan ekonomi embeddedness disisi lain. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan paradigma konstruktivisme dengan metode studi kasus (case study). Jenis metode studi kasus yang ingin dipilih adalah collective case study. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan dua teknik yaitu teknik observasi berperan serta (participantobservation), wawancara mendalam (depth interview). Kami menemukan bahwa akses diperoleh dari hubungan-hubungan sosial dimana terjadi pertukaran barang dan jasa. Para petani telah mendistribusikan barang dan jasa dengan pola-pola pertukaran yang beragam untuk tujuan mendapatkan akses. Sayuran sebagai barang yang diproduksi petani dari tanah Taman Nasional (TNGC dan TNGGP) telah dijadikan sebagai barang pertukaran. Sedangkan Taman Nasional (TNGGP) sebagai objek wisata pendakian juga menjadi sarana transaksi diantara aktor antara petugas dan petani. Dengan menelusuri gerak pertukaran, kami menemukan bahwa bentuk pertukaran sebagai tindakan ekonomi diantara petugas dan petani didorong dari bentuk-bentuk struktur jaringan sosial. Kami menemukan bahwa ikatan-ikatan (kuat dan lemah) diantara petugas dan petani telah membentuk tiga struktur jaringan sosial yaitu overembeddedness, moderate dan underembeddedness. iv Penelitian ini mengungkap tiga pola pertukaran yang dibentuk dari ikatanikatan antara petani dan petugas Taman Nasional. Ketiga cara-cara pertukaran ini meliputi resiprositas, redistribusi dan jual beli. Ketiga cara pertukaran ini menjadi mekanisme akses bagi petani untuk memperoleh kemampuan mereka memanfaatkan sumberdaya Taman Nasional. Dalam kasus TNGC dan TNGGP, hubungan jaringan sosial senantiasa memiliki agenda rasional. Berbagai jalinan hubungan sosial yang kompleks telah membentuk beragam struktur jaringan sosial baik mengembangkan ikatan kuat (strong tie) maupun ikatan lemah (weak tie) yang dibalut oleh rasionalitas aktor. Dalam kontestasi akses di TNGC, Taman Nasional menggunakan jaringan strong ties dan weak ties untuk mengoptimalkan fungsifungsi jaringan. Dalam kasus ini, strong ties dan weak ties, keduanya difungsikan sebagai “jembatan” (bridge), “pelicin” (lubricant) dan “perekat” (glue). Meskipun TNGC hanya memiliki enam jaringan utama (strong dan weak), namun kepadatan jaringan (density of network) dari enam jaringan utama ini telah membentuk relasirelasi turunan. Disisi lain, TNGGP hanya menggunakan otoritas dirinya sendiri untuk melakukan eksklusi petani melalui legitimasi hak pengelolaan hutan berdasarkan SK 174/2003. Surat Edaran Kepala Balai Besar TNGGP tidak memberi dampak efektif dalam mengeksklusi petani. Meskipun petugas taman nasional memiliki beragam jaringan dengan TNI, Kepolisian, Kejaksaan dan Pemerintah Daerah, namun ikatan ini hanya berlandaskan pada ikatan formal tidak mengarah pada ikatan kuat yang lebih intim. Ikatan petugas dengan Kepolisian dan TNI memiliki ikatan kuat namun ikatan ini hanya bersifat ikatan dyadic relational. Weak ties dan strong ties yang dibangun TNGGP tidak menyebabkan jembatan bagi relasi baru. TNGGP tidak membangun jaringan otoritas dengan pemerintah daerah atau dapat dikatakan hubungan yang ditimbulkannya tidak mengarah efektif untuk membangun density of network. TNGGP tidak memiliki skenario pemanfaatan jaringan untuk “pelicin” yang digunakan sebagai pertukaran sosial. Novelty yang diajukan dari penelitian ini adalah 2 konsep baru yaitu “Eksklusi Sukarela” dan “Eksklusi Tandingan Tradisional”. Kedua bentuk eksklusi ini sebagai akibat dari struktur sosial yang bekerja dalam masyarakat. Penelitian ini juga mengajukan proposisi bangunan teori akses yang didasarkan melalui pendekatan tindakan ekonomi disebut sebagai teori Access by Embeddedness atau akses melalui tindakan ekonomi yang tertanam dalam struktur sosial. Argumen dari penelitian ini bahwa proses-proses akses dan eksklusi tidak dapat lepas dari hubungan-hubungan relasi otoritas yang menciptakan pola-pola pertukaran. Dalam teori Access by Embeddedness, kami memiliki pandangan bahwa perbedaan bentuk pertukaran (resiprositas, redistribusi dan jual-beli) sebagai akibat dari tertanamnya ikatan-ikatan sosial, apakah terbentuk dari ikatan kuat (strong tie) seperti hubungan kekerabatan dan pertemanan intim atau ikatan lemah (weak tie) seperti hubungan teman biasa. Ikatan-ikatan sosial yang tertanam ini menjadi bagian mekanisme yang bekerja dalam kontestasi akses. Argumen Access by Embeddedness berpendapat bahwa hubungan dyadic relation maupun structural relation akan membentuk struktur jaringan sosial (overembeddedness, moderate, underembeddedness) dimana struktur ini mempengaruhi pola-pola pertukaran dalam kontestasi akses dan eksklusiid
dc.description.sponsorshipDIKTIid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAkses dan Rasionalitas Petani: Dilema Ekonomi dan Konservasi Sumber Daya Alamid
dc.typeDissertationid
dc.subject.keywordnational parksid
dc.subject.keywordaccessid
dc.subject.keywordembeddednessid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record