Show simple item record

dc.contributor.advisorKusnadi, Nunung
dc.contributor.advisorRachmina, Dwi
dc.contributor.authorSinaga, Yohana Julina
dc.date.accessioned2021-07-13T13:18:32Z
dc.date.available2021-07-13T13:18:32Z
dc.date.issued2021
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/107388
dc.description.abstractSelama 10 tahun terakhir, Indonesia masih menjadi importir ubi kayu dalam bentuk produk setengah jadi dan cenderung meningkat. Pada periode yang sama, produksi ubi kayu Indonesia semakin menurun. Penurunan produksi tersebut sebagian besar disebabkan oleh penurunan luas areal panen ubi kayu. Namun di sisi lain, produktivitas ubi kayu Indonesia cenderung meningkat dan lebih tinggi dibandingkan Thailand yang merupakan salah satu negara eksportir pati ubi kayu terbesar. Produksi ubi kayu di tingkat usahatani yang semakin menurun akibat penurunan luas panen mengakibatkan pasokan nasional tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ubi kayu terutama di tingkat industri pengolahan. Kondisi ini menyebabkan industri pengolahan memenuhi kebutuhan bahan bakunya melalui impor produk ubi kayu. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis efisiensi teknis produksi ubi kayu, (2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi teknis produksi ubi kayu; (3) menganalisis daya saing ubi kayu Indonesia menurut efisiensi teknis produksi. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari Survei Usaha Rumah Tangga Tanaman Palawija tahun 2013 untuk komoditas ubi kayu yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan publikasi Bank Indonesia mengenai Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Pengolahan Tepung Tapioka tahun 2009. Jumlah sampel petani yang digunakan sebanyak 2.595 petani dari seluruh provinsi di Indonesia. Metode analisis data yang digunakan adalah Policy Analisis Matrix (PAM) untuk mengukur daya saing ubi kayu yang dihitung berdasarkan tingkat efisiensi teknis yang diduga dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Berdasarkan hasil penelitian, usahatani ubi kayu di Indonesia secara teknis (82,32 persen) tidak efisien karena berlebihan dalam penggunaan input, seperti bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja. Selain faktor teknis, efisiensi produksi ubi kayu ditentukan oleh faktor-faktor sosial ekonomi seperti status kepemilikan lahan, keikutsertaan petani terhadap kelompok tani, dan penyuluhan. Ubi kayu Indonesia di tingkat usahatani tidak berdayasaing baik berdasarkan keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif. Biaya produksi yang tinggi akibat penggunaan input yang tidak optimal menjadi penyebab ubi kayu Indonesia di tingkat usahatani tidak mempunyai keunggulan komparatif. Ubi kayu Indonesia di tingkat industri pengolahan tidak berdayasaing berdasarkan keunggulan kompetitif karena harga tepung tapioka, sebagai produk akhir, yang sangat rendah. Daya saing ubi kayu Indonesia, baik di tingkat usahatani maupun di tingkat industri pengolahan dientukan oleh efisiensi teknis di tingkat usahatani. Semakin tinggi tingkat efisiensi teknis ubi kayu di tingkat usahatani, daya saing ubi kayu juga semakin tinggi. Oleh karena itu, daya saing ubi kayu Indonesia baik di tingkat usahatani maupun di tingkat industri pengolahan dapat ditingkatkan dengan meningkatkan efisiensi teknis di tingkat usahatani.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleDaya Saing dan Efisiensi Teknis Ubi Kayu Indonesiaid
dc.title.alternativeCompetitiveness and Technical Efficiency of Cassava Indonesiaid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordDEAid
dc.subject.keywordcomparative advantageid
dc.subject.keywordcompetitive advantageid
dc.subject.keywordPAMid
dc.subject.keywordtechnical efficiencyid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record