Show simple item record

dc.contributor.advisorEfend, Darda
dc.contributor.advisorDinarti, Diny
dc.contributor.authorFajri, Rahmi
dc.date.accessioned2021-06-17T05:10:35Z
dc.date.available2021-06-17T05:10:35Z
dc.date.issued2021-06-17
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/107021
dc.description.abstractPepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu buah yang populer di masyarakat Indonesia. Umumnya perbanyakan tanaman pepaya melalui biji, akan tetapi sebagian besar tanaman yang diperbanyak dari biji menghasilkan tanaman dengan profitabilitas rendah karena heterogenitas dan variasi genetik yang diakibatkan oleh penyerbukan silang. Melalui kultur in vitro maka dapat diperoleh tanaman yang seragam dan true-to-type. Penelitian ini terdiri dari 3 percobaan pada 3 jenis pepaya (Caliso, Callina, dan Sukma) yakni sterilisasi tunas, proliferasi tunas, dan perakaran tunas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode sterilisasi tunas aksilar yang berasal dari lapangan dan rumah kaca, mengetahui pengaruh kombinasi BAP (Benzyl Amino Purine) dan GA3 (Gibberellic Acid) pada pertumbuhan dan perbanyakan tunas aksilar pepaya, dan mengetahui pengaruh kekuatan media MS yang dikombinasikan dengan IBA pada konsentrasi berbeda terhadap perakaran planlet pepaya. Tunas pepaya yang berukuran 0.5-1.0 cm dan berusia 2 minggu yang dipanen dari lapangan dan rumah kaca dilakukan sterilisasi pada 4 metode yaitu M1: metode dasar, M2: penyemprotan tunas dengan menggunakan alkohol 70% dan dilanjutkan dengan metode dasar, M3: penyemprotan tunas dengan menggunakan fungisida dan bakterisida dan dilanjutkan dengan metode dasar, dan M4: penyemprotan tunas dengan fungisida dan bakterisida, kemudian tunas direndam pada aquadest steril bersuhu rendah (4-8 oC) dan dilanjutkan dengan metode dasar. Pada tahap pertumbuhan, tunas yang bebas kontaminasi dikultur pada media MS dengan penambahan BAP pada konsentrasi 0.0, 0.5, 1.0, 1.5, dan 2.0 mg L-1 yang dikombinasikan dengan GA3 dengan konsentrasi 0.0, 0.3, dan 0.4 mg L-1 . Pada tahap perakaran, tunas yang berukuran 1.5 cm dikultur pada media ½ MS dan MS yang dikombinasikan dengan 0.0, 0.5, 1.0 dan 1.5 mg L-1 IBA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tunas aksilar asal rumah kaca dengan metode sterilisasi M4 merupakan eksplan dengan persentase kontaminasi terendah untuk seluruh kultivar pepaya yang diuji. Media terbaik untuk menghasilkan pertumbuhan tinggi tunas optimum adalah BAP 0.5 mg L-1 dan GA3 0.3 mg L-1 untuk Caliso dan BAP 0.5 mg L-1 dan GA3 0.4 mg L-1 untuk Callina dengan tinggi rata-rata 1.6 dan 1.8 cm. Sedangkan pada kultivar Sukma, tinggi tunas maksimum diperoleh pada BAP 2 mg L-1 dan GA3 0.4 mg L-1 meskipun tinggi tunas belum memenuhi kriteria untuk dipindahkan ke media perakaran. Pada tahap perakaran, kombinasi media ½ MS dengan penambahan hormon IBA 0.5 mg L-1 diperoleh jumlah akar tertinggi yaitu 2 akar per tunas pada eksplan tunas Caliso sedangkan kultivar Callina tidak terdapat pembentukan akar.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePengembangan Protokol Sterilisasi dan Regenerasi In Vitro Tunas Aksilar Pepayaid
dc.title.alternativeDevelopment of Sterilization Protocol and In Vitro Regeneration Axillary Buds of Papayaid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordshoot budsid
dc.subject.keywordCarica papaya L.id
dc.subject.keywordmicropropagationid
dc.subject.keywordelongationid
dc.subject.keywordrootingid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record