Konservasi Tumbuhan Pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) melalui Kultur In Vitro
View/ Open
Date
2020Author
Ramadhani, Puspa Hikmanty
Sandra, Edhi
Zuhud, Ervizal. AM
Metadata
Show full item recordAbstract
Tumbuhan pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai afrodisiak dan antimalaria karena kandungan senyawa turunan eurycomanone di dalamnya. Populasi pasak bumi di alam terus menurun dan statusnya langka menurut Rifai (1992), sehingga dibutuhkan upaya konservasi spesies melalui perbanyakan tanaman. Kultur in vitro dilakukan menggunakan eksplan berupa jaringan titik tumbuh, daun dan biji. Persentase kelangsungan hidup tertinggi (37.5%) diperoleh dengan media Murashige dan Skoog (MS) dengan metode sterilisasi menggunakan larutan bakterisida dan fungisida 2 g/ 100 ml selama 1 jam, kemudian direndam dalam amoxicillin 100 mg/ ml selama 45-60 menit di luar Laminar Air Flow dan sterilisasi dalam menggunakan larutan HgCl2 0.02 g/ 100 ml selama 15 menit, lalu eksplan direndam menggunakan larutan chlorox dengan konsentrasi 10% selama 15 menit dilanjutkan dengan pembilasan menggunakan air steril sebanyak empat kali. Proses penyelamatan eksplan yang dilakukan memiliki persentase keberhasilan sebesar 8.3%. Upaya konservasi pasak bumi secara generatif melalui perkecambahan biji memiliki persen hidup kecambah sebesar 60%. Perbanyakan secara vegetatif melalui cangkok belum berhasil dilakukan. Karantina dan perlakuan pendahuluan yang dilakukan berhasil menimbulkan respon berupa pertumbuhan tunas pucuk yang dapat digunakan sebagai bahan eksplan titik tumbuh.
