Show simple item record

dc.contributor.advisorNandika, Dodi
dc.contributor.authorPutri, Julia Yonipi
dc.date.accessioned2020-12-24T00:34:27Z
dc.date.available2020-12-24T00:34:27Z
dc.date.issued2020
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/104503
dc.description.abstractSebagai salah satu upaya optimasi pemanfaatan sumberdaya hayati endemik Provinsi Sulawesi Selatan, Balai Penelitian dan Pengembangan Perumahan Tradisional Wilayah III Makassar telah mengembangkan prototipe sirap bambu sebagai alternatif komponen atap bangunan gedung. Prototipe sirap tersebut dibuat dari bambu parring (Gigantochloa atter Kurtz.) dengan dua kondisi morfologi yang berbeda yaitu masih berkulit dan sudah dikuliti (debarked). Namun demikian ketahanan kedua prototipe sirap bambu tersebut terhadap cuaca di wilayah tropika seperti Indonesia belum diketahui. Suatu pengujian lapangan selama tiga tahun telah dilakukan untuk mengetahui ketahanan kedua prototipe sirap bambu tersebut terhadap cuaca pada kemiringan 45°. Intensitas retak, belah, dan serangan mikroba pada prototipe sirap bambu pasca pengujian masing-masing ditelaah dengan merujuk kepada ASTM D 660-93, ASTM D 661-93, dan ASTM D 3274-95. Disamping itu, sifat fisis dan kandungan kimiawi prototipe sirap bambu sebelum dan sesudah pengujian lapangan juga dianalisis di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah tiga tahun pengujian, intensitas retak pada prototipe sirap bambu, baik yang berkulit maupun tanpa kulit sangat tinggi, yaitu masingmasing 82.99% dan 94.87%. Demikian juga intensitas serangan cendawan pelapuk pada kedua prototipe sirap bambu sangat tinggi yaitu masing-masing mencapai 98.39% (prototipe sirap tanpa kulit) dan 93.39% (prototipe sirap berkulit). Adanya serangan cendawan pelapuk tersebut menyebabkan prototipe sirap bambu, baik yang berkulit maupun tanpa kulit mengalami perubahan warna (discoloration) yang signifikan, yaitu menjadi lebih gelap dengan nilai ΔE mencapai 55.33 (prototipe sirap tanpa kulit) dan 42.16 (prototipe sirap berkulit) yang mengakibatkan keragaan (performance) prototipe sirap bambu menurun signifikan sesudah terpapar cuaca. Sementara itu, intensitas belah pada prototipe sirap bambu berkulit dan tanpa kulit masing-masing mencapai 17.87% dan 23.29%. Dengan perkataan lain, setelah tiga tahun pengujian lapangan, ternyata ketahanan kedua sirap bambu terhadap cuaca sangat rendah, yaitu tergolong Kelas Ketahanan 0 (prototipe sirap tanpa kulit) dan Kelas Ketahanan 1 (prototipe sirap berkulit). Adapun jenis mikroba yang ditemukan merusak prototipe sirap bambu pasca pengujian lapangan adalah cendawan Dacryopinax spathularia, Schizophyllum commune, Poria sp., Pycnoporus sanguineus, dan Trichoderma sp.. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa pada prototipe sirap bambu yang mengalami pemaparan terhadap cuaca terjadi peningkatan kadar air dan penyusutan lebar secara singnifikan. Sebaliknya, berat jenis, kerapatan, pengembangan lebar dan kandungan zat ekstraktif terlarut air dingin menurun.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcForest Managementid
dc.titleKetahanan Prototipe Sirap Bambu terhadap Cuaca Setelah Tiga Tahun Pengujian di Lapanganid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordberkulitid
dc.subject.keywordcendawanid
dc.subject.keywordkandungan kimiawiid
dc.subject.keywordketahanan terhadap cuacaid
dc.subject.keywordprototipe sirap bambuid
dc.subject.keywordsifat fisisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record