| dc.description.abstract | Kemitraan merupakan suatu bentuk kerja sama yang perlu dilakukan untuk
pengembangan sebuah usaha. Dalam hal ini pengembangan usaha yang dimaksud
ialah peningkatan kinerja usaha. Sejak tahun 1997, pemerintah telah mengeluarkan
peraturan mengenai kemitraan antara usaha mikro dan kecil dengan usaha besar.
Pengembangan kemitraan ini merupakan penguatan usaha dalam rangka
meningkatkan kinerja usaha mikro dan kecil agar mampu bersaing dengan usahausaha
lainnya. Hal ini dikarenakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM)
memiliki peran strategis dalam peningkatan perekonomian nasional. Terbukti dari
kontribusi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) pada pertumbuhan produk
domestik bruto (PDB) pada tahun 2017 yaitu sebesar 62 persen. Usaha tahu
merupakan salah satu usaha mikro dan kecil yang memiliki prospek bagus di
Indonesia. Permintaan pasar untuk tahu ini cukup tinggi, dibuktikan dari data
perkembangan konsumsi tahu selama tahun 2012 hingga 2016 mengalami
peningkatan. Hal ini yang menyebabkan permintaan tahu semakin lama semakin
meningkat. Demi meningkatkan kinerja usaha tahu, perlu dilakukan kerjasama
antara usaha tahu dengan usaha besar atau BUMN. Saat ini usaha tahu, utamanya
usaha tahu yang belum bermitra mengalami beberapa kesulitan dalam usaha,
diantaranya yaitu kesulitan dalam permodalan, kesulitan memperoleh bahan baku,
kesulitan dalam memasarkan produk, kesulitan memperoleh tenaga kerja yang
terampil, serta kesulitan dalam memperoleh mesin yang baik. Adapun kesulitan
memperoleh bahan baku dan permodalan yang paling banyak dialami oleh usaha
tahu di Indonesia, khususnya pada usaha tahu yang belum bermitra. Oleh karena
itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kemitraan dan
faktor lain terhadap kinerja usaha tahu di Indonesia. Usaha tahu dikelompokkan ke
dalam dua kategori, yaitu usaha yang bermitra dan usaha non mitra. Kinerja usaha
yang dianalisis adalah pendapatan usaha dan omset penjualan. Usaha mikro dan
kecil yang diteliti adalah usaha tahu sebanyak 237 unit usaha tahu. Data sekunder
yang digunakan berupa data cross section tahun 2015 yang diperoleh dari Badan
Pusat Statistik (BPS). Adapun data pendukung dan beberapa literature terkait
penelitian ini diperoleh dari Kementerian Koperasi dan UKM, publikasi
internasional, publikasi nasional serta sumber lain yang berkaitan dengan tujuan
penelitian. Metode analisis yang digunakan adalah analisis linier berganda.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemitraan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja usaha yaitu pendapatan usaha dan omset penjualan. Pada model
persamaan pendapatan usaha, dummy kemitraan memiliki nilai p-value sebesar
0,037, yang mana nilai tersebut lebih kecil dari taraf nyata 5 persen. Selain itu, nilai
koefisien dari dummy kemitraan sebesar 0,4569. Selanjutnya, berdasarkan hasil uji
beda rata-rata pendapatan usaha tahu yang bermitra dan usaha tahu non mitra,
diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pendapatan
usaha tahu yang bermitra dan non mitra pada taraf nyata 5 persen. Adapun nilai
rata-rata pendapatan usaha tahu yang bermitra lebih besar dibandingkan nilai ratarata
pendapatan usaha tahu non mitra dengan selisih sebesar Rp 12 345 568. Pada
model persamaan omset penjualan, diperoleh nilai koefesien dari variabel
kemitraan, yaitu sebesar 0.3061. Adapun nilai p-value dari variabel kemitraan
sebesar 0.020, yang mana nilai tersebut juga lebih kecil dari taraf nyata 5 persen.
Selain itu, hasil uji beda rata-rata omset penjualan usaha tahu yang bermitra dan
usaha tahu non mitra, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
rata-rata omset penjualan usaha tahu yang bermitra dan non mitra pada taraf nyata
5 persen. Adapun nilai rata-rata omset penjualan usaha tahu yang bermitra lebih
besar dibandingkan nilai rata-rata omset penjualan usaha tahu non mitra dengan
selisih sebesar Rp 23 043 161.
Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda juga diperoleh faktorfaktor
lain yang memengaruhi pendapatan dan omset penjualan. Faktor lain yang
memengaruhi pendapatan, yaitu umur usaha, bahan baku, jumlah tenaga kerja, dan
alokasi pemasaran. Sedangkan faktor yang memiliki pengaruh paling besar
terhadap pendapatan usaha ialah tenaga kerja. Faktor lain yang memengaruhi omset
penjualan, yaitu umur usaha, bahan baku, jumlah tenaga kerja, dan alokasi
pemasaran. Sedangkan faktor yang memiliki pengaruh paling besar terhadap omset
penjualan ialah bahan baku.
Dari analisis tersebut, disimpulkan bahwa usaha tahu yang menjalin
kemitraan memiliki pendapatan dan omset penjualan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan usaha tahu yang tidak menjalin kemitraan. Hal ini juga
terlihat juga dari hasil uji beda rata-rata pendapatan usaha dan omset penjualan
usaha tahu yang bermitra lebih tinggi dibandingkan dengan usaha tahu non mitra.
Adapun kesulitan-kesulitan yang sering dihadapi oleh usaha tahu utamanya usaha
tahu non mitra yang dapat diatasi dengan adanya kemitraan yang terjalin, kesulitan
yang paling sering dihadapi ialah memperoleh bahan baku dan memasarkan produk.
Jika usaha tahu ingin menjalin kemitraan untuk meningkatkan kinerja usaha atau
mengurangi kendala yang sering dihadapi, dapat dilakukan kemitraan bahan baku
untuk mengatasi bahan baku yang langka. Setelah berproduksi dan akan
memasarkan produk, dalam hal ini pemasaran menjadi salah satu kendala yang
paling sering dihadapi, maka kemitraan pemasaran dapat dilakukan oleh usaha tahu. | id |