Show simple item record

dc.contributor.advisorWidodo, Winarso Drajad
dc.contributor.advisorKurniawati, Ani Kurniawati
dc.contributor.authorHandayani, Turi
dc.date.accessioned2020-03-11T05:04:28Z
dc.date.available2020-03-11T05:04:28Z
dc.date.issued2020
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/102799
dc.description.abstractMetode penentuan tingkat kematangan yang tepat diperlukan untuk mengoptimalkan fase panen, menghindari panen muda atau terlalu tua yang dapat mempengaruhi daya simpan, kualitas fisik dan kimia buah pisang selama penyimpanan. Kebanyakan petani masih banyak yang menggunakan umur panen (satuan hari) dalam menentukan tingkat kematangan pisang. Metode tersebut dapat menimbulkan keragaman pada kualitas buah karena perbedaan tingkat kematangan fisiologi buah pisang. Metode lain yang dapat digunakan untuk menentukan kriteria kematangan buah pisang adalah satuan panas. Kelebihan dari metode satuan panas adalah dapat diterapkan di lokasi dengan lingkungan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengoptimasi ketepatan metode akumulasi satuan panas sebagai kriteria panen pisang Mas Kirana, Barangan dan Cavendish. Percobaan dilakukan di Kebun Parakansalak PT Perkebunan Nusantara VIII, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Oktober 2018 hingga Februari 2019. Analisis pascapanen dilakukan di Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB dan Laboratorium. Kesehatan Daerah Provinsi DKI Jakarta. Bahan yang digunakan yaitu buah pisang Mas Kirana yang dipanen dengan akumulasi satuan panas 650°C hari, pisang Barangan pada satuan panas 1 225°C hari dan Cavendish pada satuan panas 1 393.67 °C hari. Buah pisang yang telah dipanen dihitung jumlah buah per sisir, bobot per sisir dan bobot per buah. Selama pemeraman dilakukan penghitungan laju respirasi dan indeks skala warna 1 hingga 6. Pisang yang telah mencapai skala 6 dilakukan analisis kualitas fisik dan kimia buah. Percobaan ini merupakan percobaan paralel yang dilakukan secara bersamaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal dengan perlakuan 5 waktu Antesis. Setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan sehingga terdapat 25 satuan percobaan untuk masing-masing jenis pisang. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis ragam pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) Hasil percobaan menunjukkan bahwa akumulasi satuan panas dapat digunakan dalam menentukan kriteria panen pisang Mas Kirana, Barangan dan Cavendish. Pisang Mas Kirana dipanen pada akumulasi satuan panas 659.4±5.22 ⁰C hari memiliki umur panen 39-40 HSA dan umur simpan 14-15 hari. Pisang Barangan dipanen pada akumulasi satuan panas 1 234.50±2.76 ⁰C hari memiliki umur panen 72-73 HSA dan umur simpan 16-17 hari. Pisang Cavendish yang dipanen pada akumulasi satuan panas 1 398.80±3.27 ⁰C hari memiliki umur panen 83-84 HSA dan umur simpan 14-15 hari. Waktu antesis yang berbeda tidak berpengaruh pada ukuran buah saat dipanen (jumlah buah per sisir, bobot per sisir, bobot per buah), umur simpan, susut bobot, kualitas fisik dan kualitas kimia buah pisang. Pisang Mas Kirana, Barangan dan Cavendish memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berasal dari golongan asam lemak, fenolik, terpen, sterol.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcHorticultureid
dc.subject.ddcBananaid
dc.subject.ddc2019id
dc.subject.ddcBogor-Jawa Baratid
dc.titleKajian Kualitas dan Profil Metabolit Tiga Jenis Pisang dengan Kriteria Panen Berdasarkan Satuan Panasid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordderajat hariid
dc.subject.keywordumur simpanid
dc.subject.keywordumur simpanid
dc.subject.keywordproksimatid
dc.subject.keywordfenolikid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record