Show simple item record

dc.contributor.advisorPravitasari, Andrea Emma
dc.contributor.advisorMulya, Setyardi Pratika
dc.contributor.authorMaulidiati
dc.date.accessioned2020-03-03T02:17:03Z
dc.date.available2020-03-03T02:17:03Z
dc.date.issued2020
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/102566
dc.description.abstractProvinsi Banten merupakan provinsi paling barat di Pulau Jawa yang lokasinya berbatasan langsung dengan DKI Jakarta sebagai ibukota negara. Pesatnya pembangunan di Jakarta dan Jabodetabek sebagai suatu kawasan metropolitan terbesar di Indonesia telah berdampak luas pada kondisi sosial-ekonomi maupun perkembangan wilayah di sekitarnya. Namun tingginya pertumbuhan ekonomi dan aktivitas pembangunan di kawasan metropolitan tersebut ternyata juga berdampak negatif pada penurunan kualitas lingkungan seperti halnya yang terjadi di Provinsi Banten sebagai salah satu wilayah hinterland-nya. Hal ini tentu dapat mengancam tercapainya pembangunan berkelanjutan di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengembangkan indeks keberlanjutan pembangunan di Provinsi Banten pada skala lokal (Local Sustainability Index, LSI) yang ditinjau dari 3 dimensi (dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan) serta distribusi sebaran spasialnya, (2) Menganalisis asosiasi spasial nilai local sustainability index (LSI) untuk masing-masing dimensi, dan (3) Menganalisis tipologi wilayah berdasarkan LSI untuk seluruh dimensi. Unit analisis yang digunakan pada pengukuran adalah unit kecamatan. LSI dikembangkan dengan menggunakan metode factor analysis (FA) dengan software statistika. Asosiasi spasial nilai LSI untuk masing-masing dimensi dianalisis menggunakan Global Moran Index dan Local Moran Index atau LISA (Local Indicator of Spatial Autocorrelation) dengan software GeoDa. Sementara itu, tipologi wilayah berdasarkan LSI dianalisis dengan metode gerombol (cluster analysis) dengan software statistika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LSI pada masing-masing dimensi dibentuk dari beberapa nilai penciri. Variabel penciri untuk dimensi sosial dan ekonomi sebanyak 7 variabel, sedangkan variabel penciri untuk dimensi lingkungan sebanyak 5 variabel. Hasil FA tersebut kemudian digunakan untuk menghitung nilai indeks keberlanjutan masing-masing dimensi. Nilai index tertinggi untuk dimensi sosial dan ekonomi terkonsentrasi di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan, sedangkan untuk dimensi lingkungan terkonsentrasi di Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Nilai global moran index untuk dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan secara berturut-turut adalah 0,518895; 0,505767 dan 0,433155, yang berarti bahwa terjadi spatial autocorrelation positif. Hasil analisis cluster menunjukkan bahwa kecamatan-kecamatan di Provinsi Banten terklasifikasi menjadi 3 cluster, dimana cluster 1 adalah kecamatan yang memiliki nilai LSI tinggi untuk dimensi sosial dan ekonomi serta nilai LSI sedang untuk dimensi lingkungan. Cluster 2 adalah kelompok kecamatan dengan nilai LSI rendah baik untuk dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan. Cluster 3 adalah kecamatan-kecamatan dengan nilai LSI rendah untuk dimensi sosial dan ekonomi, akan tetapi nilai LSI untuk dimensi lingkungannya tinggi.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcSoil scienceid
dc.subject.ddcLocal sustainability indexid
dc.subject.ddc2019id
dc.subject.ddcBogor-Jawa Baratid
dc.titlePengembangan Indeks Keberlanjutan Lokal di Provinsi Bantenid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordAnalisis clusterid
dc.subject.keywordLocal Indicator of Spatial Association (LISA), Local Moran Indexid
dc.subject.keywordLocal sustainability index (LSI)id
dc.subject.keywordSpatial autoccorelationid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record