Karakteristik kekeringan Hidrologi Hutan Rawa Gambut Sekunder^bStudi Kasus di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah
Abstract
Respon terhadap perkembangan kekeringan hidrologi ekosistem lahan gambut yang belum terganggu akan berbeda dengan lahan gambut yang mengalami kanalisasi. Tujuan penelitian ini adalah melakukan karakterisasi kekeringan, dan menduga waktu tunda antara kekeringan hidrologi dan kekeringan meteorologi di Hutan Rawa Gambut (HRG) sekunder di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Karakteristik kekeringan dalam bentuk durasi dan defisit tinggi muka air tanah diduga dengan menggunakan metode ambang-batas tetap pada dua jenis tutupan lahan yang berbeda, semak-belukar (plot A1 dan A3) dan HRG sekunder (plot D1 dan D2). Nilai ambang-batas kekeringan hidrologi yang didapatkan yaitu 1.58. Nilai tersebut menunjukkan kondisi normal TMAT HRG ini adalah tergenang. Kekeringan hidrologi paling parah dijumpai di plot D1, diikuti oleh plot A1, A3, D2. Semak-belukar (plot A) menunjukkan kekeringan yang lebih kuat dibanding HRG sekunder (plot D). Plot A dan D memiliki rata-rata defisit tahunan -40 cm dan -18 cm, dengan durasi rata-rata tahunan pada plot A 320 hari, plot D 64 hari. Hubungan dan respon kekeringan hidrologi terhadap kekeringan meteorologi diduga dengan melakukan korelasi silang antara anomali curah hujan dan tinggi muka air tanah. Hasil analisis menunjukkan kedua plot memiliki hubungan yang sama dengan curah hujan yaitu linier positif dengan koefisien korelasi 0.50 pada plot A dan 0.48 pada plot D. Plot A lebih responsif dengan waktu tunda relatif lebih singkat dibanding plot D yaitu 48 hari berbanding 51 hari. Plot A memiliki lokasi yang dekat dengan kanal sehingga lebih mudah menjadi basah tetapi juga lebih mudah kehilangan air baik melalui aliran bawah menuju kanal maupun evaporasi karena lebih terbuka.
