| dc.description.abstract | Prakiraan tradisional merupakan bagian dari praktik komunitas lokal dalam menghadapi ketidakjelasan iklim dan menjadi inti dari pengamanan hidup dan adaptasi. Prakiraan tradisional seringkali terbungkus legenda, mitos, dan tidak ilmiah, namun memiliki kelebihan dibanding ilmu kontemporer, yaitu pengalaman dan bersifat lokal. Prakiraan tradisional dapat menjadi alat baru dalam meningkatkan kapasitas adaptasi petani dan mengurangi kerentanan petani menghadapi perubahan iklim, serta dapat membantu memahami alam dan hubungan antar elemen di dalamnya. Penelitian ini menginvestigasi prakiraan tradisional pananrang masyarakat Bugis di Kabupaten Sidenreng-Rappang dan Wajo, Sulawesi Selatan, menguji akurasinya, serta membentuk model hibrida antara prakiraan tradisional dan prakiraan kontemporer. Model hibrida dibentuk melalui teknik regresi logistik. Pananrang merupakan ilmu pembacaan pola berulang di alam yang menjadi landasan prakiraan cuaca dan iklim serta penentuan keputusan pertanian. Penelitian ini menunjukkan indikator-indikator pananrang memiliki akurasi yang tinggi dalam prakiraan curah hujan tahunan, awal musim hujan, lama musim hujan, jumlah kejadian banjir, dan variabilitas iklim ENSO serta IOD dengan beberapa batasan. Model yang terbentuk berjumlah 15 dan memiliki skill yang baik, namun hanya ada 1 model yang merupakan model hibrida. Batasan-batasan ini disebabkan keterbatasan data observasi dan data historis prediksi, ketidakjelasan dalam beberapa indikator tradisional, dan isu penjagaan kekayaan intelektual. | id |