Show simple item record

dc.contributor.advisorWahyudi, Imam
dc.contributor.advisorDarmawan, I Wayan
dc.contributor.authorAugustina, Sarah
dc.date.accessioned2020-01-07T07:06:21Z
dc.date.available2020-01-07T07:06:21Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/100838
dc.description.abstractSifat dasar yang meliputi ciri anatomi, nilai turunan dimensi serat, sifat fisismekanis, kimia, dan keawetan alami tiga jenis kayu lesser-used species asal Kalimantan Utara, yaitu nyatoh, pisang putih, dan sepetir serta peningkatan mutu kayunya melalui teknik densifikasi sudah diteliti guna mendukung pemanfaatan kayu secara tepat guna dan peningkatan nilai tambah kayu. Ciri anatomi, nilai turunan dimensi serat, sifat fisis-mekanis, kimia, dan keawetan alami diukur dan dihitung menggunakan prosedur standar masing-masing parameter. Proses peningkatan mutu dilakukan secara densifikasi menggunakan hot press machine pada tekanan 30 kg/cm2, suhu 160 °C selama 15 menit, dengan dua tingkat pengurangan tebal yaitu 20 dan 40% dari ukuran awal dan rendaman panas suhu 80 °C dalam larutan boron 2 dan 5% sebagai pra-perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat dasar ketiga jenis kayu yang diteliti memiliki persamaan dan perbedaan. Dari segi anatomi ciri khas kayu nyatoh adalah pori-porinya dominan bergabung dan berisi banyak tilosis, jari-jari satu ukuran dan rapat, parenkim aksialnya tipe garis tangensial pendek dalam jarak yang tidak teratur; kayu pisang putih: pori-pori dominan soliter, jari-jari dua ukuran jelas, parenkim aksialnya garis tangensial panjang dalam jarak yang tidak teratur; sedangkan kayu sepetir memiliki pori-pori soliter, jari-jari dua ukuran kurang jelas, parenkim aksialnya tipe keliling pembuluh hingga aliform bentuk mata, dan memiliki saluran antar sel dalam bentuk deretan tangensial panjang. Rata-rata panjang serat dan tebal dinding seratnya masing-masing 1769 dan 3.61 μm (nyatoh), 1708 dan 5.51 μm (pisang putih), dan 1337 dan 3.39 μm (sepetir). Rata-rata BJ, T/R-rasio, MOE, dan MOR berturut-turut adalah 0.42, 1.41, 72265 kg/cm2, dan 505 kg/cm2 (nyatoh), 0.37, 2.34, 78385 kg/cm2, dan 520 kg/cm2 (pisang putih), serta 0.32, 1.40, 53963 kg/cm2, dan 406 kg/cm2 (sepetir). Berdasarkan PKKI tahun 1961, kayu nyatoh termasuk Kelas Kuat III, sedangkan pisang putih dan sepetir masuk Kelas Kuat IV. Ketiga kayu yang diteliti memiliki keawetan alami yang rendah (tidak awet). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa teknik densifikasi yang diaplikasikan ternyata mampu meningkatkan nilai BJ kayu dan memperbaiki daya serap air, namun tidak terhadap pengembangan tebal. Dibandingkan kontrolnya, BJ kayu terdensifikasi meningkat sebesar 28.86‒ 63.03%, daya serap air berkurang 12.80‒15.89%, sedangkan pengembangan tebal meningkat 241‒557%. Secara umum BJ, daya serap air, dan pengembangan tebal kayu-kayu terdensifikasi dipengaruhi oleh jenis kayu, tingkat pengurangan tebal, dan pra-perlakuan yang diterapkan. Perlu dicari teknik peningkatan mutu lain yang mampu memperbaiki nilai pengembangan tebal.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcForest Productid
dc.subject.ddcWood Qualityid
dc.subject.ddc2018id
dc.subject.ddcBogor, Jawa Baratid
dc.titleSifat dasar tiga jenis kayu lesser-used species dan peningkatan mutunya melalui teknik densifikasiid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordberat jenisid
dc.subject.keywordboronid
dc.subject.keyworddensifikasiid
dc.subject.keywordsifat dasar kayuid
dc.subject.keywordstabilitas dimensiid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record