Show simple item record

dc.contributor.advisorDjuraidah, Anik
dc.contributor.advisorSyafitri, Utami Dyah
dc.contributor.authorLukiswati, Intan
dc.date.accessioned2020-01-02T07:40:39Z
dc.date.available2020-01-02T07:40:39Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/100751
dc.description.abstractData panel merupakan gabungan dari data cross section dan time series. Data cross section ialah data yang dikumpulkan dari satu atau beberapa objek pada suatu waktu tertentu. Sedangkan data time series adalah data yang dikumpulkan dari satu atau beberapa objek yang diamati pada beberapa waktu tertentu. Analisis data panel dapat didekati dengan tiga pendekatan yakni model panel dengan pengaruh umum (CEM), model panel dengan pengaruh tetap (FEM), dan model panel dengan pengaruh acak (REM). Data panel juga terkadang mengandung efek spasial yaitu salah satunya keragaman spasial. Pendugaan parameter model data panel yang mengandung keragaman spasial dapat dilakukan dengan menggunakan suatu metode analisis yang disebut Regresi Panel Terboboti Geografis (RPTG). Salah satu langkah dalam analisis RPTG adalah melakukan pembobotan menggunakan fungsi kernel. Fungsi pembobot kernel yang sering digunakan dalam penelitian antara lain kernel kuadrat ganda, gauss, eksponensial, dan tricube. Pembobotan membutuhkan lebar jendela yaitu suatu radius yang ditunjukkan oleh suatu lingkaran yang menggambarkan jumlah atau proporsi amatan yang masih dianggap berpengaruh dalam pemodelan RPTG suatu lokasi tertentu. Jenis lebar jendela dibedakan menjadi lebar jendela tetap dan lebar jendela adaptif. Lebar jendela tetap memiliki besar radius sama untuk setiap amatan, sedangkan lebar jendela adaptif memiliki besar radius yang berbeda untuk setiap amatan. Lebar jendela optimum diperoleh melalui validasi silang (Cross Validation/CV) dengan proses iterasi. Indeks Pembangunan Gender (IPG) adalah suatu ukuran yang menentukan tingkat keberhasilan pembangunan dengan permasalahan gender. IPG sama dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) namun dibedakan menurut jenis kelamin. IPG merupakan rasio antara IPM perempuan dengan IPM laki-laki. Jika IPG kurang dari 100 maka terdapat kesenjangan antara pembangunan perempuan dan laki-laki. Komponen yang menyusun IPG antara lain faktor umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Masalah ketimpangan gender di Indonesia saat ini masih terjadi dalam pelaksanaan pembangunan manusia. Kesenjangan tersebut terlihat pada beberapa aspek salah satunya aspek kesempatan kerja dan ekonomi. Jawa Tengah merupakan provinsi terbesar di Pulau Jawa dengan IPG yang cenderung meningkat selama 2011 sampai 2015. Meskipun IPG Jawa Tengah cukup tinggi, tapi lebih rendah jika dibandingkan dengan beberapa provinsi lain di Jawa yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan IPG pada perempuan di Jawa Tengah tahun 2011 hingga 2015 menggunakan metode RPTG. Data yang digunakan dalam penelitian bersumber dari BPS (Badan Pusat Statistik). Peubah-peubah penjelasnya antara lain angka harapan hidup, presentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan, angka partisipasi sekolah SD/sederajat, angka partisipasi sekolah SMP/sederajat, angka partisipasi sekolah SMA/sederajat, pengeluaran perkapita, dan tingkat partisipasi angkatan kerja. Pemilihan peubah penjelas berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Peubah-peubah penjelas yang digunakan sesuai dengan komponen IPG. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa analisis RPTG dapat memprediksi keragaman data IPG perempuan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 hingga 2015 dengan pseudo R2 84.92%. Nilai IPG selama tahun 2011 hingga 2015 tidak jauh berbeda. Artinya bahwa faktor waktu tidak berpengaruh nyata. Namun faktor spasial yang berpengaruh nyata pada IPG. Berdasarkan peubah yang nyata, kabupaten/kota di Jawa Tengah dapat dikelompokkan menjadi 11 kelompok. Sebagai contoh Kabupaten Demak, Kudus, Pati, dan Kota Semarang membentuk satu kelompok berdasarkan peubah penjelas yang nyata pada IPG. Keempat kabupaten/kota tersebut dilalui oleh jalur Pantai Utara Jawa (Pantura) sehingga struktur sosial ekonominya sama. Selain itu Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga dengan peubah penjelas nyata adalah APS SMA/sederajat dan pengeluaran per kapita. Dua kabupaten/kota tersebut merupakan sentra industri tekstil dan pengolahan makanan minuman sehingga struktur ekonomi dan tenaga kerjanya sama. Namun ada juga kabupaten/kota yang tidak membentuk kelompok dengan yang lain karena letaknya yang bersebelahan dengan provinsi lain. Penelitian ini menyimpulkan peubah penjelas yang nyata di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah adalah pengeluaran per kapita. Hal ini menunjukkan faktor yang berpengaruh besar pada IPG adalah faktor ekonomi. Hasil tersebut dapat digunakan pemerintah daerah untuk meningkatkan IPG. Peubah angka harapan hidup, persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan, dan APS SD/sederajat mendominasi pada kelompok-kelompok, sedangkan TPAK sama sekali tidak berpengaruh terhadap IPG pada seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcApplied Statisticsid
dc.subject.ddcPanel Regressionid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcJawa Tengahid
dc.titleRegresi Panel Terboboti Geografis pada Indeks Pembangunan Gender Jawa Tengah Tahun 2011-2015.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keyworddata panelid
dc.subject.keywordIPGid
dc.subject.keywordkeragaman spasialid
dc.subject.keywordRPTGid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record