Show simple item record

dc.contributor.advisorNurhadryani, Yani
dc.contributor.advisorWahjuni, Sri
dc.contributor.authorWardhana, Ariq Cahya
dc.date.accessioned2019-12-30T03:43:41Z
dc.date.available2019-12-30T03:43:41Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/100681
dc.description.abstractMeningkatnya jumlah populasi masyarakat di Indonesia berdampak pada kondisi perkotaan. Kota Bogor mengalami dampaknya dengan tingginya urbanisasi serta semakin terbatasnya luas wilayah memicu konversi lahan persawahan sebesar 88,12% menjadi perumahan dan kebun yang mengakibatkan ancaman terhadap produksi pertanian (Hidayati et al. 2017). Sehingga sejak tahun 2017 pemerintah Kota Bogor melakukan perencanaan implementasi smart city yang terbagi menjadi beberapa dimensi sebagai solusi mengatasi masalah tersebut (Diskominfostandi 2017a). Salah satu dimensinya adalah smart society yang merupakan dimensi tentang manusia sebagai unsur utama sebuah kota dan setiap individu dalam masyarakat harus diberikan akses pendidikan dengan fasilitas belajar secara digital (Citiasia 2015). Dinas pertanian bekerja sama dengan komunitas mulai memberikan pelatihan pertanian urban secara hidroponik pada beberapa kelompok wanita tani sebagai solusi sistem produksi pangan yang bertujuan menyokong pembangunan berkelanjutan dalam menghadapi keterbatasan lahan. Untuk memudahkan akses fasilitas belajar digital sebagai bagian penting dari rencana pemerintah Kota Bogor yaitu smart society diperlukan dukungan teknologi informasi sebagai sarana berbagi pengetahuan budidaya hidroponik melalui Knowledge Management System (KMS). Sehingga, penelitian kali ini bertujuan mengembangkan KMS budidaya hidroponik menggunakan strategic planning roadmap dan Knowledge Management System Life Cycle (KMSLC). Metode strategic planning roadmap menghasilkan rancangan KMS dalam mendukung inovasi smart city untuk menyelesaikan permasalahan kota. Rancangan yang dihasilkan berupa gambaran permasalahan kota, inovasi ekosistem melalui KMS, diagram digital space, rancangan strategi, pembuatan aplikasi dan model bisnis. Permasalahan yang diangkat adalah fasilitas belajar pasca pelatihan pertanian hidroponik. Ekosistem inovasi menghasilkan analisa dukungan kebijakan serta aktor yang terlibat. Diagram digital space menggambarkan rancangan proses penerapan KMS. Rancangan strategi menghasilkan cara tepat dalam mengatasi kesenjangan pada proses penerapan KMS berdasarkan diagram digital space. Pada proses pembuatan aplikasi diterapkan metode KMSLC untuk menghasilkan KMS budidaya hidroponik dengan lima tahapan yang digunakan. Pada tahap pertama dilakukan evaluasi infrastruktur untuk mengetahui kondisi infrastuktur perangkat lunak, sumber daya manusia, dan pengetahuan. Analisa infrastruktur dilakukan pada komunitas hidroponik sebagai sumber pengetahuan. Hasil analisa tersebut menunjukan bahwa komunikasi berbagi pengetahuan dalam komunitas digunakan aplikasi whatsapp, tersedianya empat pakar hidroponik di komunitas yang siap dijadikan sumber pengetahuan, dan terdapat 13 pengetahuan explicit yang berkaitan dengan budidaya hidroponik berbentuk softcopy maupun hardcopy. Tahapan kedua yaitu membentuk tim KMS dengan yang terdiri dari pakar hidroponik, pengembang KMS, anggota dan umum. Tahapan ketiga yaitu proses menangkap knowledge menggunakan on site observation dengan melakukan wawancara serta rekaman video secara langsung dilapangan. Pengetahuan didapatkan melalui identifikasi pengetahuan tacit maupun explicit dari komunitas hidroponik. Pengetahuan tacit didapatkan melalui proses rekaman video pengalaman hidroponik yang dilakukan oleh pakar sedangkan pengetahuan explicit diambil dari dokumen yang tersedia di komunitas. Tahap keempat yaitu mendesain blueprint KMS dengan melakukan pemetaan pengetahuan melalui perancangan kodifikasi pengetahuan menggunakan knowledge map. Hasilnya adalah 34 pengetahuan explicit yang siap untuk disimpan pada database. Pada tahap ini juga dilakukan perancangan fungsional sistem. Pengembangan KMS diimplementasikan menggunakan aplikasi berbasis Web dengan pendekatan object oriented. Pada tahap kelima dilakukan verifikasi dan validasi oleh pakar melalui proses wawancara dan mencoba langsung KMS. Hasil uji menunjukan pengetahuan telah valid, berjalannya fungsi sistem dan memiliki fitur klasifikasi KMS yaitu knowledge sharing. Hasil pembuatan model bisnis menggunakan business model canvas untuk memudahkan pemetaan KMS pada proses bisnis yang akan dijalankan sistem. Hasil luaran pada penelitian ini yaitu rancangan inisiatif sdmart city dalam mendukung smart society sebagai fasilitas belajar pasca pelatihan hidroponik melalui pengembangan KMS budidaya hidroponik. Proses pengembangan KMS tersebut dibangun menggunakan KMSLC dengan menghasilkan sistem purwarupa yang siap digunakan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcComputer Scienceid
dc.subject.ddcCompter interactionid
dc.subject.ddc2018id
dc.subject.ddcBogor-Jawa Baratid
dc.titlePengembangan Knowledge Management System Budidaya Hidroponik untuk Mendukung Smart Societyid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordbudidaya hidroponikid
dc.subject.keywordknowledge management system (KMS)id
dc.subject.keywordstrategic planning roadmapid
dc.subject.keywordsmart societyid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record