Show simple item record

dc.contributor.advisorWiyono, Suryo
dc.contributor.advisorYuliani, Titiek Siti
dc.contributor.authorAfifah, Khoirotul
dc.date.accessioned2019-12-11T04:50:34Z
dc.date.available2019-12-11T04:50:34Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/100211
dc.description.abstractPenyakit busuk pelepah padi yang disebabkan oleh patogen Sarocladium oryzae menjadi penyakit penting di pertanaman padi di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan gejala busuk pelepah padi yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia yang menimbulkan tidak terisinya malai padi dan malai berwarna hitam, sehingga berpotensi menurunkan produksi padi. Hasil beberapa penelitian di negara penghasil padi menunjukkan bahwa bulir padi yang terinfeksi S. oryzae dapat mengalami kegagalan panen 85% pada padi hibrida, sehingga menjadi patogen yang cukup berbahaya dalam memengaruhi hasil panen. Penyebaran patogen S. oryzae dapat terbawa oleh benih, angin, dan beberapa serangga hama tanaman. Patogen S. oryzae di Indonesia pertama kali dilaporkan pada tahun 1987 sebagai penyakit minor. Perkembangan penelitian yang masih sedikit dan sumber informasi yang sangat terbatas menjadikan penyakit ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat, sehingga penelitian tentang status penyakit busuk pelepah padi dan karakterisasi patogen masih sangat terbatas. Hal tersebut mendorong penelitian tentang status terkini penyakit busuk pelepah padi di beberapa daerah di Indonesia serta keragaman patogen S. oryzae yang menginfeksi pertanaman padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah dan tingkat infeksi penyakit busuk pelepah padi di lapangan, mengarakterisasi patogen S. oryzae, dan mempelajari patogenisitas S. oryzae terbawa benih. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi Tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman IPB dan Laboratorium Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (BBPOPT) Jatisari, Karawang pada bulan September 2018 sampai Februari 2019. Pengumpulan data diperoleh dari wawancara peneliti S. oryzae di Indonesia serta 54 petani responden, dan studi literatur dari beberapa hasil penelitian S. oryzae di Indonesia. Perhitungan kejadian penyakit dilakukan di 54 lahan padi di Kabupaten Karawang dan Cianjur pada fase generatif. Isolasi cendawan berasal dari bulir dan pelepah yang bergejala busuk pelepah padi, selanjutnya isolat cendawan yang didapatkan dilakukan uji patogenisitas. Pemeriksaan visual gejala busuk pelepah padi dilakukan untuk memastikan gejala busuk pelepah padi disebabkan S. oryzae. Benih yang didapatkan dari penangkar benih, petani, dan toko pertanian dilakukan uji kesehatan benih. Identifikasi cendawan dilakukan secara morfologi dan molekuler dengan menggunakan primer spesifik, serta analisis data. Patogen S. oryzae di Indonesia dilaporkan pertama tahun 1987 berstatus penyakit minor, tetapi hasil pengamatan tahun 2000 sampai 2018 menunjukkan bahwa penyakit busuk pelepah padi menjadi penyakit utama dan penting di beberapa daerah pengamatan. Hasil wawancara 54 petani responden menghasilkan perkiraan kehilangan hasil yang dialami oleh petani responden adalah 10% sampai 15%. Gejala busuk pelepah padi di Kabupaten Karawang dan Cianjur umumnya disebabkan S. oryzae dengan gejala pada pelepah terdapat bercak berwarna cokelat, bagian tengah bercak berwarna abu-abu, bulir padi mengalami busuk seluruhnya, serta terdapat miselium. Hasil perhitungan kejadian penyakit (KP) busuk pelepah padi dari seluruh lokasi pengamatan menghasilkan rata-rata KP yaitu 12.56% tanpa melihat varietas tanaman padi. Kejadian penyakit busuk pelepah padi terjadi pada seluruh varietas padi yang diamati dengan rata-rata KP 12.64% kecuali IR 42 yang sama sekali tidak terinfeksi patogen. Kejadian penyakit busuk pelepah lebih tinggi terjadi di daerah Cianjur dengan rata-rata KP 11.58% dibandingkan Karawang 9.27%. Patogen S. oryzae yang menginfeksi padi di Karawang dan Cianjur memiliki morfotipe yang berbeda yaitu KP, KP2, KP3, PW3, dan PW03. Kelima morfotipe tersebut bersifat patogen. Secara makroskopis koloni KP3 dan PW3 memiliki warna koloni kekuningan dan pertumbuhan miselium cendawan lebih cepat, sedangkan koloni KP, KP2 dan PW03 berwarna oranye dengan pertumbuhan miselium lebih lambat. Secara mikroskopis konidia KP, PW3, dan PW03 memiliki bentuk lebih panjang dan kurus, sedangkan konidia KP2 dan KP3 lebih pendek dan gemuk. Hasil pengujian kesehatan benih padi varietas Sintanur, IR 64, Inpari 32, Ciherang, dan Pandan Wangi menunjukkan bahwa seluruh varietas padi terinfeksi oleh Sarocladium spp. dengan rata-rata tingkat infeksi 10.75% di Karawang dan 10.73% di Cianjur. Sarocladium spp. asal benih memiliki morfotipe yang beragam yaitu B1, B2, B3, B4, B5, B6, B7, dan B8, seluruhnya patogen. Kedelapan morfotipe yang diidentifikasi menunjukkan bahwa hanya morfotipe B8 yang merupakan S. oryzae. Tujuh morfotipe lainnya termasuk dalam Genus Sarocladium spp. Hasil amplifikasi DNA menggunakan primer spesifik S. oryzae yaitu forward primer (5’-GAT CTC TTG GCT CTG GCA TC-3’) dan reverse primer (5’-GCT CCT GAG GGT TGA AAT GA- 3’) dengan target amplifikasi 157 pb menunjukkan bahwa KP, KP2, KP3, PW3, PW03, dan B8 adalah S. oryzae.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcPhytopatologyid
dc.subject.ddcPathogenid
dc.subject.ddc2019id
dc.subject.ddcKarawang, Jawa Baratid
dc.titleStatus Penyakit dan Karakterisasi Patogen Busuk Pelepah Padi.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordbenihid
dc.subject.keywordmorfotipeid
dc.subject.keywordpenyakit utamaid
dc.subject.keywordSarocladium oryzaeid
dc.subject.keywordvarietasid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record