Show simple item record

dc.contributor.advisorSumertajaya, I Made
dc.contributor.advisorDjuraidah, Anik
dc.contributor.authorAndrytiarandy, Wendy
dc.date.accessioned2019-11-26T02:43:03Z
dc.date.available2019-11-26T02:43:03Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/100142
dc.description.abstractDiplycosia (Ericaceae) merupakan marga yang secara taksonomi masih kurang dipelajari. Distribusi marga ini hampir terbatas di kawasan Malesia dan banyak jenis merupakan endemik satu pulau atau satu pegunungan. Niugini yang terletak di kawasan Malesia bagian timur merupakan kawasan yang dikategorikan sebagai pusat keberagaman Diplycosia dengan 21 jenis dilaporkan pada penelitian-penelitian sebelumnya. Sebagian besar jenis Diplycosia di Niugini diketahui dari jumlah spesimen yang terbatas, mulai hanya diketahui dari spesimen tipe atau sedikit sekali spesimen, atau belum diketahui sepenuhnya morfologi bunganya. Oleh karena itu, studi taksonomi perlu dilakukan kembali pada marga Diplycosia di Niugini. Selain itu, meskipun sebagian besar jenis jenis endemik dengan kisaran geografis yang sempit, status konservasi untuk 17 jenis belum pernah dilakukan. Hal ini menjadikan suatu hambatan dalam penyusunan strategi konservasi sehingga evaluasi status konservasi perlu dilakukan. Konsep jenis morfologi digunakan dalam studi taksonomi kali ini. Data keberagaman jenis diperoleh dari studi pada berbagai institusi herbarium baik secara langsung atau digital, meliputi Australian National Herbarium (CANB), Harvard University (A), Muséum National d'Histoire Naturelle, Paris (P), Naturalis History Museum Firenze (FI), Naturalis Leiden (L), Papua New Guinea Forest Research Institute (LAE), PT Freeport Indonesia (akronim tentatif FRE), Puslit Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (BO), Royal Botanic Gardens Kew (K), dan Universitas Papua (MAN). Eksplorasi lapangan juga dilakukan di Niugini bagian Indonesia, yaitu di kawasan Pegunungan Arfak dan Puncak Jaya. Studi anatomi ciri kualitatif pada epidermis daun juga dilakukan. Evaluasi status konservasi dilakukan dengan panduan dari IUCN dan dibantu dengan aplikasi GeoCAT. Sejumlah 26 jenis dicatat untuk kawasan Niugini. Jumlah ini termasuk jenis yang telah diusulkan sebagai jenis baru yaitu D. papuana Mustaqim, Utteridge & Heatubun dan empat jenis yang diusulkan dalam penelitian ini. Keempat jenis tersebut adalah Diplycosia elegans Mustaqim, Utteridge & Heatubun, D. hexamera Mustaqim, Utteridge & Heatubun, Diplycosia puradyatmikai Mustaqim, Utteridge & Heatubun, dan Diplycosia reticulifolia Mustaqim, Utteridge & Heatubun.Satu varietas baru juga diusulkan yaitu Diplycosia lorentzii var. acuminata Mustaqim, Utteridge & Heatubun. Diplycosia morobeensis var. ovatifolia Sleumer dijadikan sebagai sinonim dari Diplycosia morobeensis Sleumer. Hasil studi menunjukkan wilayah Niugini bagian Indonesia di bagian barat dihuni lebih banyak jenis dibandingkan wilayah Papua Niugini di bagian timur. Sejauh ini, kawasan tengah mulai dari Pegunungan Jayawijaya ke arah timur hingga sebelum perbatasan Indonesia dan Papua Niugini merupakan kawasan dengan keberagaman jenis tertinggi meskipun eksplorasi botani masih sedikit. Pada tingkatan jenis, distribusi di Niugini bervariasi dari luas hingga sangat sempit, seperti satu pegunungan atau dari satu lokasi. Diplycosia di Niugini tumbuh sebagai semak epifit atau terestrial dengan hutan berlumut sebagai habitat yang paling penting hingga ke zona alpin. Kisaran elevasi mulai dari 800 m di Semenanjung Wandammen pada D. kosteri dan 4000 m di Gunung Giluwe untuk D. morobeensis dan D. rupicola. Sebanyak tujuh jenis dilaporkan menghuni kawasan alpin termasuk jenis baru yaitu D. elegans. Berdasarkan studi yang dilakukan, terdapat dua informasi baru untuk ciri marga Diplycosia. Pertama, benang sari teramati dimorfik pada beberapa jenis. Perbedaan bentuk terdapat pada ukuran dan bentuk dari tangkai dan kepala sari. Setelah ditelusuri, ciri ini tidak dapat digunakan untuk membedakan dengan marga terdekat Gaultheria. Kedua, bunga dengan bagian berkelipatan 6 juga berhasil diamati dari jenis Diplycosia di Niugini, yang merupakan catatan pertama untuk marga. Beberapa ciri berperan penting dalam identifikasi Diplycosia di Niugini, meliputi indumentum pada masing-masing organ, morfologi daun dan morfologi bunga. Selain itu, pada beberapa jenis, ciri buah yang belum banyak digunakan sebagai pembeda diketahui juga berperan penting dalam identifikasi. Selain itu, ciri anatomi epidermis terkadang memiliki peranan untuk membantu membedakan jenis dengan morfologi yang serupa. Evaluasi status konservasi telah dilakukan dan sebagian besar jenis termasuk ke dalam kategori Kurang Data (DD) sebanyak 10 jenis, Risiko Rendah (LC) 3 jenis, Rentan (VU) 1 jenis, Genting (EN) 8 jenis dan Kritis (CR) 5 jenis. Jenis yang termasuk ke dalam kategori Kritis adalah D. elegans, D. kosteri, D. lorentzii var. acuminata, D. puradyatmikai dan D. reticulifolia. Beberapa ancaman yang berperan terhadap kepunahan Diplycosia di Niugini berasal dari gangguan manusia dan adanya perubahan iklim, serta dalam skala kecil juga dari bencana alam seperti tanah longsor. Gangguan akibat aktivitas manusia meliputi konversi lahan untuk berbagai keperluan seperti perladangan, pertambangan dan juga pembangunan pemukiman serta jalan. Pembalakan liar juga ditemukan untuk jenis-jenis epifitik. Perubahan iklim kemungkinan besar akan berdampak langsung pada jenis-jenis yang menghuni ekosistem-ekosistem dataran tinggi Niugini, seperti ekosistem pegunungan, subalpin dan alpin.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcApplied Statisticid
dc.subject.ddcFuzzy Clusterid
dc.subject.ddc2013id
dc.subject.ddcIndonesiaid
dc.titleMonograf Marga Diplycosia (Ericaceae) di Niugini.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordepifit, Ericaceaeid
dc.subject.keywordjenis baruid
dc.subject.keywordMalesia timurid
dc.subject.keywordstatus konservasiid
dc.subject.keywordtaksonomiid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record