Penentuan Parameter Kerusakan dan Teknik Penyimpanan Bawang Putih (Allium sativum L.) di PT GarudaFood.
Abstract
Allium sativum L. yang dikenal dengan nama bawang putih adalah produk
hortikultura yang mudah rusak bila tidak ditangani dengan tepat. Tujuan penelitian
ini adalah menentukan kemasan penyimpanan bawang putih, menentukan suhu
penyimpanan yang cocok untuk bawang putih, menentukan parameter kerusakan
bawang putih, dan mengetahui pengaruh bawang putih yang disimpan terhadap
kesukaan produk pilus. Penelitian ini terbagi menjadi empat tahapan yaitu
penentuan kemasan penyimpanan bawang putih, penentuan suhu penyimpanan
yang cocok untuk bawang putih, penentuan parameter kerusakan bawang putih, dan
aplikasi bawang putih ke dalam produk pilus. Tiga jenis kemasan digunakan dalam
penelitian ini yaitu jaring plastik, low density polyethylene (LDPE), dan
polyprophylene (PP). Bawang putih yang disimpan menggunakan jaring plastik
dipilih sebagai kemasan karena selama dua minggu penyimpanan tidak
menunjukkan gejala kerusakan. Suhu penyimpanan yang digunakan terdiri atas tiga
taraf yaitu 3±1ºC, 24±1ºC, dan 35±1ºC. Lama yang ditentukan untuk penyimpanan
adalah dua belas minggu. Parameter yang diamati adalah susut bobot, kekerasan,
rating intensitas aroma, dan rating hedonik pilus. Pengamatan dilakukan selama dua
minggu sekali. Suhu penyimpanan 24±1ºC dipilih sebagai suhu yang
direkomendasikan untuk penyimpanan bawang putih berdasarkan pertimbangan
ekonomis dan mutu yang dihasilkan. Bawang putih yang disimpan pada suhu
24±1ºC memiliki nilai susut bobot yang terukur sebesar 6.72±0.01%, perubahan
kekerasan dari 4868.17±129.29g menjadi 4003.47±5.98g, perubahan skor
intensitas aroma bawang putih dari dari 5.50±0.53 menjadi 4.50±1.41, perubahan
skor hedonik pilus dari 5.33±1.03 menjadi 4.90±1.12, dan tidak ada tanda-tanda
pertumbuhan kecambah. Parameter kerusakan dipilih berdasarkan nilai korelasi
Pearson parameter-waktu penyimpanan tertinggi. Parameter susut bobot,
kekerasan, dan rating intensitas aroma bawang putih dipilih sebagai dugaan
parameter kerusakan karena memiliki hubungan kuat hingga sangat kuat terhadap
waktu penyimpanan. Aplikasi terhadap produk pilus ditujukan untuk mengetahui
penerimaan sensori bawang putih yang telah disimpan. Setiap dua minggu sekali
bawang putih diaplikasikan ke dalam produk pilus sebagai bumbu. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa selama dua belas minggu penyimpanan bawang
putih pada masing-masing suhu penyimpanan masih dapat digunakan sebagai
bumbu karena pilus yang dihasilkan masih disukai panelis.
