View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Agricultural Technology
      • UT - Agroindustrial Technology
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Agricultural Technology
      • UT - Agroindustrial Technology
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Modifikasi Kolektor Surya Dengan Tambahan Plat Seng Bercat Hitam Untuk Meningkatkan Suhu Air Pembenihan Ikan

      Thumbnail
      View/Open
      BAB I (278.3Kb)
      BAB II (303.2Kb)
      BAB III (336.0Kb)
      BAB IV (1.350Mb)
      BAB V (277.5Kb)
      Cover (277.0Kb)
      Daftar Pustaka (277.0Kb)
      full text (1.675Mb)
      Lampiran (464.9Kb)
      Ringkasan (283.2Kb)
      Date
      2009
      Author
      Susanti, Agusti Irri
      Setiawan,Budi Indra
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Kualitas air merupakan salah satu parameter keberhasilan dari penggunaan sistem resirkulasi selain tingkat pertumbuhan dan mortalitas ikan yang dibudidayakan. Salah satu parameter kualitas air yang perlu diperhatikan dalam akuakultur yaitu suhu. Suhu air yang optimum akan mendorong enzim-enzim pencernaan dan metabolisme untuk bekerja efektif. Terjadinya perubahan suhu air yang mendadak akan berdampak kurang baik terhadap ikan, seperti ikan mengalami stress yang dicirikan dengan berenang melonjak-lonjak, mengapung, dan bernapas di permukaan air. Jika kondisi ini berlangsung lama akan berdampak buruk bagi pertumbuhan ikan bahkan kematian. Menurut Rudiyanto (2002), ikan akan mengalami pertumbuhan yang kecil atau tidak ada pertumbuhan di bawah suhu tertentu (20° C), selanjutnya laju pertumbuhan akan meningkat seiring dengan meningkatnya suhu sampai mencapai titik maksimum pada suhu sekitar 30° C dan kemudian menurun kembali atau mungkin menjadi negatif pada suhu letal (suhu diatas 30° C). Pemanfaatan energi surya untuk meningkatkan suhu udara yang mengalir dalam kolektor surya yang kemudian menjadi sumber panas untuk menghangatkan suhu udara dalam ruang tertutup dan air budidaya ikan pernah dilakukan sebelumnya. Pemanfaatan kolektor surya plat datar pada penelitian sebelumnya yaitu dengan penambahan plat-plat seng yang dicat hitam sebagai absorber untuk memanaskan udara diharapkan mampu menjaga suhu air budidaya lebih baik dari sebelumnya. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas kolektor surya dengan penambahan plat-plat seng yang dicat hitam untuk menghangatkan udara dalam ruang tertutup yang kemudian digunakan untuk meningkatkan suhu air pembenihan ikan pada sistem resirkulasi akuakultur. Tujuan selanjutnya adalah membandingkan efektivitas kolektor surya dengan plat-plat seng yang dicat hitam dengan kolektor surya pada penelitian sebelumnya. Ada tiga perlakuan dalam penelitian ini. Perlakuan satu (P1) yaitu kipas tidak dinyalakan sehingga tidak ada sirkulasi udara. Data diambil selama 2 hari dengan interval pengambilan data adalah 15 menit. Perlakuan dua (P2) yaitu kipas dinyalakan 24 jam/hari. Perlakuan dua terdiri dari dua percobaan. Percobaan pertama (P2I) adalah dengan air pembenihan dibiarkan dalam keadaan statis sedangkan percobaan kedua (P2II) dengan air pembenihan yang disirkulasikan. Data perlakuan dua diambil selama 3 hari dengan interval pengambilan data adalah 15 menit. Perlakuan tiga (P3) yaitu dengan pengendalian on-off terhadap iv kipas dari kolektor surya ke ruang pembenihan. Perlakuan tiga juga terdiri dari dua percobaan. Percobaan pertama (P3I) dengan air pembenihan dalam keadaan statis dan percobaan kedua (P3II) dengan air yang disirkulasikan. Data perlakuan tiga tersebut diambil selama 3 hari dengan interval pengambilan data adalah 15 menit. Perlakuan satu (P1) bertujuan untuk mengetahui suhu dan RH ruang tertutup dan kedua kolektor surya tanpa adanya sirkulasi udara. Suhu udara ruang rata-rata P1 adalah 28.9 °C dengan kelembaban relatif (RH) 67%. Variasi suhu ruang rata-rata adalah 2.7. Suhu lingkungan rata-rata P1 adalah 27.7 °C dengan standar deviasi yang lebih tinggi yaitu 7.9. Suhu rata-rata yang lebih tinggi dan standar deviasi yang lebih tinggi daripada suhu lingkungan menunjukkan bahwa ruang tertutup mampu menyimpan panas sehingga sangat baik untuk meningkatkan suhu air budidaya ikan. Pada P2I, rata-rata suhu ruang tertutup yang terukur yaitu sebesar 28.3 °C dengan standar deviasi sebesar 2. RH ruang tertutup adalah 81.5%. Suhu air ratarata pada P2I ini adalah 27.6 °C dengan standar deviasi sebesar 0.6. Sedangkan pada P2II, suhu rata-rata air tersirkulasi adalah 28.8 °C dengan standar deviasi 0.8 dan rata-rata suhu ruang tertutup adalah 29.3 °C dengan RH sebesar 85.1%. Standar deviasi ruang tertutup rata-rata adalah 2.2. Standar deviasi ruang tertutup yang lebih tinggi daripada air pembenihan menunjukkan bahwa suhu ruang lebih fluktuatif daripada suhu air. Hal ini terjadi karena air memiliki massa jenis lebih tinggi daripada udara sehingga air lebih lama bisa menyimpan panas dibandingkan udara. Pada P3I, rata-rata suhu ruang tertutup yang terukur yaitu sebesar 28.0 °C dengan standar deviasi sebesar 2. RH ruang tertutup adalah 91.5%. Suhu air ratarata pada P2I ini adalah 27.4 °C dengan standar deviasi sebesar 0.5. Sedangkan pada P3II, suhu rata-rata air tersirkulasi adalah 29.0 °C dengan standar deviasi 0.7 dan rata-rata suhu ruang tertutup adalah 29.7 °C dengan RH sebesar 88.9%. Standar deviasi ruang tertutup rata-rata adalah 1.8. P3II pada penelitian ini sama dengan perlakuan 1 pada penelitian yang dilakukan sebelumnya (Didik Hananto, 2006). Pada penelitian sebelumnya suhu ruang tertutup rata-rata adalah 28.5 °C dengan standar deviasi 1.6 dan suhu air rata-rata yaitu 29.0 °C dengan standar deviasi 0.6. Suhu air rata-rata P2I lebih tinggi dari P2II. Sedangkan jika dibandingkan dengan P3I, suhu air rata-rata P3I lebih rendah dari P2I maupun P2II. Hal ini dikarenakan oleh faktor cuaca yang buruk pada P3I. P3II memiliki suhu air ratarata yang paling tinggi dibandingkan P2I, P2II, dan P3I. Suhu air P3II sama dengan suhu air penelitian sebelumnya. Hal ini terjadi karena jumlah air yang harus dihangatkan pada penelitian kali ini lebih besar daripada jumlah air pada penelitian sebelumnya. Jumlah air pada P3II adalah sebanyak 980.85 liter sedangkan pada penelitian sebelumnya jumlah air yang harus dihangatkan hanya sebanyak 200 liter. Hal ini menunjukkan bahwa kolektor surya dengan tambahan plat seng yang dicat hitam sebagai absorber lebih efektif untuk meningkatkan suhu air rata-rata.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/60285
      Collections
      • UT - Agroindustrial Technology [4356]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository