Pengaruh cara pengolahan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) terhadap nilai gizi dan mutu organoleptik ikan kayu
Abstract
Konsumsi ikan merupakan pilihan yang tepat untuk menanggulangi masalah Kekurangan Energi Protein (KEP) yang masih menjadi masalah gizi di Indonesia. Ikan adalah bahan pangan sumber protein yang sangat mudah rusak. Oleh karena itu, untuk menjamin ketersediaan hasil perikanan perlu dilakukan upaya penanganan dan pengawetan (pengolahan) ikan, sehingga dapat mem- perpanjang umur simpan. Konsumsi ikan dalam bentuk diasin tidak lagi sesuai (kadar garam 20-30%), karena akan menurunkan konsumsi secara keseluruhan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan cara pengolahan tradisional lain yang dapat meminimalkan kehilangan zat gizi dengan umur simpan yang lama, serta mem- bantu kemampuan masyarakat dalam mengkonsumsinya.
Tujuan penelitian ini adalah memperoleh teknik pengolahan yang paling baik untuk meminimalkan kehilangan zat gizi produk ikan kayu dan melihat tingkat penerimaan konsumen terhadap aroma, warna, dan rasa ikan kayu sebagai lauk- pauk dan bahan penyedap masakan.
Penelitian ini didahului dengan membuat ikan kayu menggunakan tiga cara pengolahan, yaitu: ikan kayu tradisional Aceh (A), ikan kayu cara Jepang tanpa modifikasi (B), dan ikan kayu cara Jepang yang dimodifikasi (C). Selanjutnya dilakukan analisis proksimat, pH, Aw, intensitas warna, protein larut air, daya cerna protein, asam amino, asam lemak dan uji organoleptik. Hasil analisis tersebut dibandingkan dengan ikan kayu tanpa penjamuran (arabushi) yang berasal dari Jepang (D) dan sampel kontrol (ikan segar yang dikeringbekukan).
Produk ikan kayu yang dihasilkan mempunyai kadar air yang cukup rendah, berkisar 19,6 -23,2%. Analisis protein menunjukkan terjadinya penurunan kadar protein dibandingkan dengan kontrol, penurunan terbesar terjadi pada ikan kayu cara Jepang tanpa modifikasi (27.9%), sedangkan yang terkecil pada ikan kayu tradisional Aceh (12,9%). Kandungan lemak tertinggi ditemukan pada ikan kayu cara Jepang yang dimodifikasi (4,7%) dan yang terendah pada ikan kayu tradisional Aceh (1,4%). Dari semua sampel yang dianalisis tidak menunjukkan perbedaan yang besar pada kadar abu.
Perlakuan pendahuluan dengan pengukusan (ikan kayu cara Jepang yang dimodifikasi) dapat memperkecil kehilangan protein larut air (PLA). Sementara, dari hasil analisis daya cerna protein secara in vitro diketahui bahwa semua produk ikan kayu yang dibuat mempunyai daya cerna yang cukup tinggi, yaitu lebih besar dari 80%. Penurunan daya cerna protein dibandingkan sampel kontrol (ikan segar yang dikeringbekukan) berkisar 4,5-7,2%.
