Produksi bimassa dan komposisi asam lemak tidak jenuh dari beberapa isolat bakteri fotosintetik anoksigenik
View/ Open
Date
1998Author
Indriani, Mira
Suliantari
Koswara, Sutrisno
Metadata
Show full item recordAbstract
Asam lemak esensial sangat penting dikonsumsi oleh manusia, karena tubuh manusia tidak dapat mensintesis asam lemak tersebut. Asam lemak esensial terdiri dari asam linolenat dan asam linoleat yang tergolong dalam asam lemak omega-3 dan omega-6. Kegunaan asam lemak omega-3 dan omega-6 ini sangat banyak terutama yang berhubungan dengan kesehatan manusia.
Asam lemak omega-3 seperti asam eikosapentaenoat (EPA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA) banyak terdapat dalam minyak ikan laut, tetapi komposisi dan jumlah asam lemaknya berbeda-beda tergantung dari spesies ikan, musim dan lokasi penangkapan. Sumber asam lemak omega-3 dapat diperoleh dari minyak ikan tetapi jumlah tersebut tidak akan mencukupi sehingga perlu dicari sumber lain yang diduga dapat menghasilkan asam lemak omega-3, seperti kapang dan bakteri. Keuntungannya adalah pertumbuhan mikroorganisme sangat cepat, tidak banyak menggunakan tempat, dapat diproduksi secara kontinu, tidak tergantung musim dan dapat menghasilkan minyak dengan komposisi asam lemak yang stabil.
Salah satu jenis mikroorganisme yang mempunyai kemungkinan menghasilkan asam lemak tidak jenuh adalah bakteri yang diisolasi dari laut. Terutama jenis bakteri fotosintetik yang umumnya mempunyai pigmen klorofil dan karoten untuk proses fotosintesisnya.
Dalam penelitian ini, akan dipelajari produksi biomassa dari bakteri fotosintetik anoksigenik (LB 211, LB 311, SK 211 dan SKX 121) yang telah diberi perlakuan dengan penambahan minyak prekursor, yaitu minyak kelapa sawit, minyak kedelai, minyak jagung dibandingkan dengan kontrol yaitu tanpa penambahan minyak prekursor. Biomassa yang diperoleh dikeringkan dan diekstrak minyaknya dengan pelarut heksana yang bersifat non polar. Analisa komposisi asam lemak yang dihasilkan dengan menggunakan kromatografi gas.
Pada produksi biomassa, penambahan minyak prekursor memberikan pengaruh yang berbeda-beda untuk masing-masing jenis isolat. Pada isolat LB 211, SK 211 dan SKX 121, penambahan minyak prekursor akan menurunkan jumlah biomassa yang diperoleh sedangkan pada isolat LB 311, penambahan minyak kelapa sawit dan minyak jagung dapat meningkatkan jumlah biomassa.
Penambahan minyak kedelai dapat meningkatkan produksi minyak per berat kering pada semua isolat yang digunakan. Isolat SKX 121 menghasilkan jumlah minyak paling banyak dengan prekursor minyak kedelai sebesar 0.18 gram/gram biomassa kering.
Isolat SK 211 dan SKX 121 mempunyai kemampuan untuk menghasilkan DHA, yaitu sekitar 2.98% dan 0.55%. Penambahan minyak prekursor tidak efektif untuk meningkatkan kandungan DHA, tetapi menyebabkan tidak terbentuknya DHA.
