Mempelajari stabilitas termal enzim lipase candida antartica dan phizomucor michei dalam pelarut hezane, toluene dan benzene
Abstract
Enzim telah banyak diaplikasikan sebagai biokatalis pada proses-proses industri seperti industri pangan, kimia dan farmasi. Namun salah satu kendala dari aplikasi enzim pada proses industri adalah harganya yang relatif mahal dan stabilitasnya yang rendah (mudah rusak) khususnya di lingkungan industri yang pada umumnya menerapkan penggunaan suhu reaksi yang tinggi. Pemakaian suhu tinggi ini menimbulkan masalah besar pada proses enzimatis karena enzim pada umumnya bersifat labil oleh panas.
Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu teknologi untuk mengawetkan dan menjadikan enzim lebih stabil sehingga proses-proses enzimatis dapat dilakukan secara lebih ekonomis dan mempunyai daya saing yang lebih tinggi, khususnya jika dibandingkan dengan proses-proses sejenis yang non enzimatis.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa enzim mampu memperlihatkan aktivitas katalitiknya dalam pelarut organik (lingkungan mikroakueus) dan bahkan stabilitas enzim pada pelarut tersebut menjadi meningkat (Klibanov, 1989; Hariyadi, 1995). Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pelarut organik yaitu: hexane, toluene, dan benzene, yang mempunyai perbedaan polaritas, terhadap stabilitas termal enzim lipase Candida antartica dan Rhizomucor miehei.
Analisis stabilitas termal lipase dilakukan dengan menggunakan model denaturasi ordo pertama (Greco jr. et al., 1993). Parameter stabilitas termal dinyatakan sebagai konstanta laju denaturasi (ka), waktu paruh denaturasi (11/2), dan energi deaktivasi Arrhenius (Ea).
Melalui penelitian ini diperoleh bahwa pelarut organik yang baik digunakan untuk meningkatkan stabilitas termal kedua enzim lipase, yaitu lipase Candida antartica dan Rhizomucor miehei, adalah pelarut yang paling hidrofobik yaitu hexane dengan nilai log P 3.5. Penggunaan hexane dapat secara nyata menurunkan laju denaturasi (ka) enzim, meningkatkan waktu paruh denaturasi (11/2), dan meningkatkan energi deaktivasi Arrhenius (E).
