Pengaruh penggunaan ekstrak biji atung (Parinarium glaberimum Hassk.) sebagai antioksidan alami dalam menghambat ketengikan pindang kembung (Rastrelliger neglectus) presto
View/ Open
Date
1999Author
Styaningrum, Susi Tri
Soewarto T.S.
Nitibaskara, Rudy R.
Metadata
Show full item recordAbstract
Ikan merupakan salah satu komoditas perikanan yang mudah mengalami proses ketengikan yang selanjutnya menimbulkan pembusukan. Untuk itu perlu dilakukan penanganan pasca panen yang tepat dan cepat sehingga dapat mengurangi kerusakan ikan setelah pemanenan sekaligus dapat meningkatkan daya awet produk perikanan.
Salah satu usaha untuk meningkatkan daya awet ikan adalah dengan penggaraman dan perebusan yang hasil olahannya biasa dikenal dengan sebutan ikan pindang. Sebagai upaya diversifikasi produk perikanan, mulai dikembangkan produk baru yaitu 'presto' yang merupakan modifikasi pemindangan. Pengolahan presto ini menggunakan suhu tinggi sehingga duri dan tulangnya menjadi lunak.
Penggunaan suhu tinggi (121°C) pada pengolahan presto yang mampu membunuh/mengurangi mikroorganisme, belum sepenuhnya dapat memperpanjang daya awet perikanan. Ikan presto seperti halnya produk perikanan lainnya mempunyai kerentanan terhadap kerusakan ikan terutama yang disebabkan oleh proses oksidasi, sehingga diperlukan upaya penggunaan suatu bahan pengawet yang mempunyai kemampuan untuk menghambat terjadinya proses oksidasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan ekstrak biji atung, yang diduga mengandung antioksidan alami, dalam menghambat proses oksidasi kembung presto sehingga diharapkan dapat memperpanjang daya awet produk perikanan.
Perlakuan yang dicobakan pada pindang kembung presto dibagi menjadi lima kelompok yaitu pindang kembung presto kontrol (garam 20%, tanpa penambahan ekstrak biji atung), pindang kembung presto dengan perlakuan garam 20% + ekstrak biji atung dengan pelarut heksan sebanyak 3% (B3) dan 5% (B5), serta pindang kembung presto dengan perlakuan garam 20% + ekstrak biji atung dengan pelarut alkohol sebanyak 3% (C3) dan 5% (C5). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan blok faktorial dengan dua kali ulangan. Parameter yang diamati adalah perubahan mutu indrawi (secara subyektif), bilangan peroksida, dan bilangan TBA. Perubahan mutu indrawi ikan diamati tiap hari,
sedangkan bilangan peroksida dan bilangan TBA diukur tiap 5 hari selama 30 hari. Hasil penelitian terhadap mutu pindang kembung presto secara indrawi menunjukkan bahwa pada hari ke-19 pindang kembung presto kontrol mulai tercium bau tengik, sedangkan pindang kembung presto dengan perlakuan B3, B5, serta C3, dan CS bau tengik mulai timbul masing-masing pada hari ke-24, ke-25, dan ke-23. Hasil ini diperkuat dengan pengukuran bilangan peroksida dan bilangan TBA. Pelendiran pada pindang kembung presto sampai akhir penyimpanan tidak terlalu tebal, sehingga tidak mempengaruhi penampakan produk. ...
