Potensi antimikroba ekstrak biji, daun, kulit akar dan kulit batang kedawung (Parkia raxburghii G. Don) terhadap bakteri patogen dan perusak makanan
View/ Open
Date
2000Author
Sari, Pipi Puspita
Wijaya, Christofoa
Rahayu, Winiati Pudji
Zuhud, Ervizal Amir Muhammad
Metadata
Show full item recordAbstract
Kedawung (Parkia roxburghii G. Don) diduga memiliki aktivitas antimikroba karena banyak digunakan sebagai obat penyakit infeksi dan pencernaan yang disebabkan oleh bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi antimikroba, menentukan sifat dan konsentrasi ekstrak bagian-bagian tumbuhan kedawung yang memiliki aktivitas antimikroba potensial.
Ekstrak biji, daun, kulit akar dan kulit batang kedawung diuji aktivitasnya terhadap bakteri patogen dan perusak makanan yaitu Escherichia coli, Vibrio cholerae, Staphylococcus cureus dan Bacillus cereus. Pada penelitian pendahuluan dilakukan pengukuran kadar air dengan metode distilasi dan seleksi bagian tumbuhan yang mempunyai aktivitas antimikroba yang paling tinggi. Tahapan ekstraksi meliputi penghancuran bahan dengan blender, penambahan air 1: 1, 1: 2, 1:3 (b/v), dilakukan perkolasi dengan menggunakan magnetic stirer selama 0, 20, 40, 60 menit dan penyaringan. Filtrat yang diperoleh sebagian disterilisasi dan sebagian lagi tidak disterilisasi. Pengujian aktivitas antimikroba ekstrak menggunakan metode difusi agar dan hasilnya dinyatakan sebagai zona penghambatan terhadap bakteri uji. Pada tahap selanjutnya ekstrak bagian tumbuhan yang mempunyai aktivitas antimikroba tertinggi diuji dengan metode kontak untuk melihat pengaruh konsentrasi dan waktu kontak terhadap pertumbuhan bakteri.
Hasil penelitian menunjukkan kulit batang memiliki aktivitas antimikroba paling tinggi terhadap keempat bakteri uji dibandingkan kulit akar dan daun. Zona penghambatannya terhadap S. aureus, B. cereus, E. coli dan V. cholerae masing-masing sebesar 7,61, 7,93, 9,21 dan 7,60 mm. Biji tidak menunjukan penghambatan terhadap semua bakteri uji.
Perbandingan kulit batang dan air 1 2 (b/v) lebih baik daripada perbandingan kulit batang dan air 1: 1 (b/v) dan 1: 3 (b/v). Pemanasan dengan proses sterilisasi (121° C, 15 menit) tidak merusak senyawa antimikroba kedawung bahkan cenderung meningkatkan aktivitas antimikrobanya. Perlakuan waktu ekstraksi tidak menghasilkan zona penghambatan yang berbeda nyata terhadap keempat bakteri uji ...
