Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/141345
Title: Kajian teknologi dan finansial produksi tempe dengan mesin pengupas kulit kedelai secara kering dan basah
Authors: Aman W., R.Moehammad
Muslim, Suryadi Syarifuddin
Issue Date: 1997
Publisher: IPB University
Abstract: Pada penelitian ini dibandingkan teknologi proses pembuatan tempe dengan mesin pengupas kulit kedelai secara kering dan basah serta mengkaji kelayakan finansial produksi. Hal ini ditujukan untuk mendapat model pengembangan industri tempe yang ekonomis. Kajian teknologi meliputi aspek produktivitas dan efisiensi (bahan, energi dan waktu) dari kedua mesin pengupas, kualitas dan nilai ekonomi limbah, pemeliharaan mesin dan persediaan suku cadang, sifat mutu produk dan preferensi konsumen. Kajian finansial dilakukan dengan cara simulasi karena produksi sebenarnya adalah 5 Kg kedelai. Kajian finansial meliputi analisis biaya, penentuan biaya pokok dan harga jual, arus kas penerimaan dan pengeluaran, kriteria investasi berdasarkan nilai uang (NPV, IRR, Net B/C dan analisis kepekaan) serta kriteria investasi berdasarkan nilai waktu (BEP dan PBP). Produktivitas dan efisiensi mesin pengupas kering dan basah tidak jauh berbeda. Untuk pengupas kering diperoleh output/input sebesar 92% sedangkan untuk pengupas basah 90%. Daya yang dibutuhkan kedua mesin untuk mengupas 1 Kg kedelai relatif sama yaitu 0,015 kwh. Kelebihan pengupas kering adalah kapasitasnya (200-250 Kg/jam) lebih besar daripada pengupas basah (100-150 Kg/jam) dan proses pengupasan kering tidak melibatkan sirkulasi air. Perbedaan sifat mutu produk yang dihasilkan terletak pada nilai pH (kering 6,9 dan basah 6,7) dan total padatan (kering = 52,3% dan basah = 37,6%), sedangkan faktor pengembangan kedua produk sama (1,8) dan tekstur keduanya kompak. Preferensi konsumen menunjukkan kedua produk tempe (cara kering dan basah) berada pada tingkat hedonik biasa hingga disukai. Limbah kering lebih mudah ditangani daripada limbah basah sehingga biaya penanganan kering relatif lebih murah. Pemeliharaan mesin dan persediaan suku cadang dapat dilakukan dan diperoleh di bengkel-bengkel alsintani (alat dan mesin pertanian) yang tersebar di berbagai daerah. Investasi berupa peralatan dan biaya produksi untuk tahun pertama. Kajian finansial produksi tempe dilakukan dengan asumsi bahwa besar suku bunga pinjaman 6% dan 16%. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa untuk suku bunga 6% metode kering maupun basah menghasilkan nilai NPV (kering = Rp 205.475.318, basah = Rp 210.113.401) dan IRR (kering = 79,82%, basah 79,83%) yang positif serta nilai Net B/C yang tak terhingga. Begitu pula untuk suku bunga 16% menghasilkan nilai NPV (kering = Rp 171.853.437,5, basah Rp 175.682.905) dan IRR (kering = 80,53%, basah = 80,54%) yang positif serta Net B/C yang tak terhingga. NPV 6% > NPV 16% sedangkan IRR 16% IRR 6%. BEP 6% kering (81.653 Kg) hampir sama dengan BEP 6% basah (81.545 Kg), begitu pula BEP 16% kering (76.985 Kg)....
URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/141345
Appears in Collections:UT - Food Science and Technology

Files in This Item:
File SizeFormat 
F97ssm.pdf
  Restricted Access
12.08 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.