Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/123132
Title: Kadar Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Antioksidan Seduhan Kopi Arabika dengan Variasi Metode Penyeduhan
Other Titles: Bioactive Content and Antioxidant Activity of Arabica Coffee Brew with Various Brewing Methods
Authors: Giriwono, Puspo Edi
Herawati, Dian
Liguori, Christian
Issue Date: 2023
Publisher: IPB University
Abstract: Indonesia merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di dunia. Sebagian besar kopi yang dihasilkan adalah kopi robusta, namun produktivitas kopi arabika kian meningkat seiring dengan besarnya permintaan ekspor dan adanya tren penyeduhan manual kopi lokal (manual brewing) yang umumnya menggunakan bahan baku kopi arabika. Dataran tinggi Gayo di Aceh merupakan penghasil kopi arabika terbesar Indonesia dan menyumbang produktivitas lebih dari 25% kapasitas nasional. Citarasa kopi arabika Gayo telah banyak dieksplorasi dan dikenal oleh pecinta kopi, namun penelitian mengenai sifat fungsionalnya masih terbatas. Kopi sering dikaitkan dengan kafein, meskipun dewasa ini semakin banyak ditemukan kandungan senyawa bioaktif lain yang berpotensi memberikan efek positif bagi kesehatan seperti kelompok asam fenolat, diterpen, dan alkaloid. Proses penyeduhan mengekstrak kandungan dalam biji kopi. Perbedaan metode penyeduhan berpotensi menyebabkan adanya perbedaan jenis dan jumlah senyawa yang terekstrak, tak terkecuali senyawa bioaktifnya. Penyeduhan langsung seperti kopi tubruk, penyeduhan dengan corong dan kertas saring seperti V60, serta penyeduhan dengan kantong kertas yang digantungkan pada cangkir atau dikenal sebagai drip bag menghasilkan kandungan asam fenolat dan diterpen yang berbeda pada hasil akhir. Asam fenolat dalam bentuk isomer caffeoylquinic acid (CQA) yang dominan, yaitu 3-CQA, 4-CQA, dan 5-CQA, terdeteksi pada seduhan tubruk berturut-turut 0,38; 0,45; dan 1,11 mg/mL dan pada V60 berturut-turut 0,39; 0,45; dan 1,18 mg/mL. Seduhan drip bag secara nyata lebih rendah dengan kandungan CQA berturut-turut 0,25; 0,33; dan 0,85 mg/mL. Diterpen dalam bentuk kafestol dan kahweol terdeteksi paling tinggi dalam seduhan tubruk, berturut-turut sebesar 3,03 dan 7,86 mg/L. Kadar kedua diterpen tersebut dalam seduhan V60 berturutturut 0,40 dan 1,02 mg/L, sedangkan dalam seduhan drip bag 0,46 dan 0,85 mg/L. Uji aktivitas antioksidan metode DPPH menunjukkan tidak ada beda nyata antar sampel yang berbeda proses penyeduhan, namun uji FRAP menunjukkan aktivitas tertinggi dimiliki seduhan tubruk sebesar 635,12 mg EAG/L, diikuti V60 sebesar 560,91 dan drip bag 551,10 mg EAG/L. Variasi metode penyeduhan menyebabkan adanya perbedaan prinsip ekstraksi, lama kontak bubuk kopi dengan air, serta laju alir dan durasi proses penyeduhan. Keseluruhan faktor tersebut mempengaruhi efisiensi ekstraksi sehingga menghasilkan perbedaan pada kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidan hasil seduhan.
URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/123132
Appears in Collections:MT - Agriculture Technology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
9d. F251190401 Christian Liguori-Tesis Watermark_cover.pdf
  Restricted Access
Cover424.53 kBAdobe PDFView/Open
F251190401_Christian Liguori.pdf
  Restricted Access
Fullteks1.25 MBAdobe PDFView/Open
9d. F251190401 Christian Liguori-Tesis Watermark_lampiran.pdf
  Restricted Access
Lampiran791.08 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.