Intervensi Pemberian Edukasi Gizi dan Telur-Susu untuk Perbaikan Gizi Balita di Karawang, Batang, dan Pasuruan
View/ Open
Date
2026-08Subtype
Technical ReportAuthor
Khomsan, Ali
Sukma P, Nabila
Indriana, Sagina
Metadata
Show full item recordAbstract
Gizi balita merupakan determinan penting kualitas sumber daya manusia. Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan fase kritis bagi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kesehatan anak. Kekurangan gizi pada periode ini dapat menyebabkan stunting, gangguan perkembangan, dan meningkatkan risiko penyakit di kemudian hari. Oleh karena itu, diperlukan intervensi terpadu melalui edukasi gizi kepada ibu dan kader Posyandu serta pemberian makanan tambahan berupa telur dan susu untuk meningkatkan asupan dan mendukung pertumbuhan balita. Penelitian ini merupakan studi longitudinal untuk mengevaluasi dampak intervensi edukasi gizi dan pemberian makanan tambahan berupa telur dan susu terhadap balita di Karawang, Batang, dan Pasuruan. Pengukuran dilakukan pada lima periode, yaitu baseline, midline, endline, follow-up 1 (FU1), dan follow-up 2 (FU2). Intervensi makanan tambahan diberikan selama enam bulan berupa satu porsi susu DANCOW GroPlus dan satu butir telur setiap hari kepada balita yang memenuhi kriteria inklusi. Edukasi gizi diberikan kepada ibu balita dan kader Posyandu sebanyak tiga kali, setiap dua bulan, dengan durasi sekitar 60–120 menit. Materi mencakup masalah gizi anak dan pola asuh makan, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), jajanan sehat, serta sanitasi dan higiene. Pengetahuan gizi dinilai menggunakan pre-test dan post-test. Data konsumsi pangan dikumpulkan melalui food recall, termasuk asupan zat gizi dan Individual Dietary Diversity Score (IDDS). Status gizi dinilai berdasarkan berat badan dan tinggi badan serta indikator antropometri. Pelaksanaan intervensi dan pertumbuhan anak dipantau secara berkala. Kesimpulan dan rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Pengetahuan gizi ibu balita menunjukkan peningkatan yang konsisten setelah intervensi edukasi, dengan skor rata-rata meningkat dari 76,0 pada baseline menjadi 80,5 pada midline dan 83,5 pada endline. Peningkatan skor dari baseline ke endline ini signifikan secara statistik ($p<0{,}01$) baik secara total maupun di ketiga wilayah penelitian. Pengetahuan tersebut dapat dipertahankan selama follow-up, yaitu 83,6 pada FU1 dan 83,4 pada FU2, sehingga tetap berada dalam kategori tinggi, dan perbedaan skor antara baseline dan FU2 juga tetap signifikan ($p<0{,}01$) baik secara total maupun di masing-masing wilayah. Pada kader Posyandu, skor pengetahuan meningkat dari 71,9 pada pretest menjadi 90,4 pada posttest, dan perbedaan ini signifikan secara statistik ($p<0{,}01$). Namun, skor menurun menjadi 79,0 pada FU1 dan 77,5 pada FU2, dan perbedaan skor antara pretest dan FU2 tidak lagi signifikan secara statistik ($p>0{,}05$). Dengan demikian, edukasi gizi efektif meningkatkan pengetahuan ibu dan kader secara bermakna, tetapi retensi pengetahuan kader cenderung menurun setelah intervensi dan tidak bertahan secara statistik hingga akhir periode pengamatan. Oleh karena itu, diperlukan edukasi penyegaran dan pembinaan kader secara berkala untuk mempertahankan pengetahuan dan mendukung keberlanjutan penyampaian pesan gizi kepada keluarga balita. ...
Collections
- Medicine [134]

