TATA LAKSANA NUTRISI ANAK GIZI BURUK MELALUI PEMBERIAN FORMULA TERAPEUTIK F-75 DAN F-100:
Kajian Fase Stabilisasi dan Transisi pada Studi Kasus Balita Marasmus
| dc.contributor.author | Martini, Rina | |
| dc.contributor.author | Fadila, Elzha Nur | |
| dc.contributor.author | Rizkiriani, Annisa | |
| dc.date.accessioned | 2026-07-14T06:21:10Z | |
| dc.date.available | 2026-07-14T06:21:10Z | |
| dc.date.issued | 2026-06 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174539 | |
| dc.description.abstract | Gizi buruk masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius pada balita di Indonesia maupun secara global, dengan estimasi World Health Organization (WHO) tahun 2022 mencatat 45 juta anak mengalami wasting. Tata laksana gizi buruk menurut WHO dilakukan secara bertahap melalui pemberian formula terapeutik, yaitu Formula-75 (F-75) pada fase stabilisasi dan Formula-100 (F-100) pada fase transisi menuju rehabilitasi. Artikel ini bertujuan mengkaji proses perhitungan kebutuhan gizi, formulasi, pengolahan, serta evaluasi hasil pemberian F-75 dan F-100 melalui pendekatan studi kasus pada seorang anak laki-laki berusia 2 tahun (An. B) dengan status gizi buruk tipe marasmus (BB 8 kg, TB 80 cm, indeks BB/TB -2,9 SD). Kebutuhan energi dan protein harian pasien dihitung menggunakan formula WHO, diperoleh sebesar 632 kkal dan 23,7 g protein. Formula F-75 yang diolah memenuhi 100% kebutuhan energi per waktu makan namun baru memenuhi 32% kebutuhan protein, sesuai prinsip stabilisasi yang membatasi asupan protein untuk mencegah beban metabolik berlebih. Pada fase transisi, dua kali replikasi pengolahan F-100 menghasilkan energi 158-159 kkal serta protein 4,3 g per waktu pemberian, dengan pemenuhan energi harian mencapai kisaran 99,8% dan protein 72%, menunjukkan peningkatan densitas gizi dibanding fase stabilisasi. Karakteristik organoleptik kedua formula tergolong baik, yaitu berwarna putih (F-100 sedikit kekuningan akibat penambahan minyak), beraroma khas susu, berasa manis, dan bertekstur cair homogen. Kajian ini menyimpulkan bahwa pemberian formula bertahap F-75 dan F-100 secara umum telah sesuai dengan pedoman WHO, meskipun pemenuhan protein pada kedua fase masih memerlukan penyesuaian formulasi agar target pemulihan gizi tercapai secara optimal. | id |
| dc.language.iso | id | id |
| dc.publisher | Prodi Manajemen Industri Jasa Makanan Dan Gizi Sekolah Vokasi-IPB University | id |
| dc.title | TATA LAKSANA NUTRISI ANAK GIZI BURUK MELALUI PEMBERIAN FORMULA TERAPEUTIK F-75 DAN F-100: | id |
| dc.title | Kajian Fase Stabilisasi dan Transisi pada Studi Kasus Balita Marasmus | |
| dc.type | Article | id |
| dc.subject.keyword | F-75 | id |
| dc.subject.keyword | F-100 | id |
| dc.subject.keyword | formula terapeutik | id |
| dc.subject.keyword | gizi buruk | id |
| dc.subject.keyword | marasmus | id |
| dc.subject.keyword | tata laksana nutrisi | id |
| dc.subtype | Other | id |
Files in this item
This item appears in the following Collection(s)
-
Diploma Programme [104]

