| dc.contributor.author | Sajogyo | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-12T04:29:47Z | |
| dc.date.available | 2026-02-12T04:29:47Z | |
| dc.date.issued | 1991 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172731 | |
| dc.description.abstract | Tulisan ini membahas fenomena penurunan angka kemiskinan di Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) antara tahun 1976 hingga 1987. Topik utama yang dikaji adalah validitas metode pengukuran kemiskinan BPS yang menggunakan pendekatan pengeluaran rumah tangga sebagai proksi pendapatan. Sajogyo mencatat bahwa meskipun secara statistik penduduk miskin menurun dari 40% menjadi 17%, terdapat perbedaan signifikan antara kondisi di pedesaan dan perkotaan.
Data yang relevan mencakup penurunan jumlah orang miskin dari 54 juta menjadi 30 juta jiwa. Namun, Sajogyo menunjukkan bahwa indikator lain seperti angka kematian bayi dan status gizi buruk pada balita di desa masih jauh lebih tinggi dibandingkan di kota, yang menandakan bahwa tingkat hidup di perkotaan secara umum masih lebih baik meskipun biaya hidupnya lebih mahal. Kesimpulan tulisan menekankan perlunya evaluasi terhadap metode BPS dan pentingnya melihat aspek subjektif dari kesenjangan yang dirasakan masyarakat. | id |
| dc.language.iso | id | id |
| dc.publisher | Perpustakaan Sajogyo Institute | id |
| dc.title | Kemiskinan, Kecukupan dan Kesenjangan | id |
| dc.type | Article | id |
| dc.subject.keyword | Angka Kemiskinan | id |
| dc.subject.keyword | Data BPS | id |
| dc.subject.keyword | Pengeluaran Rumahtangga | id |
| dc.subject.keyword | Pendapatan | id |
| dc.subject.keyword | Indikator Kemiskinan | id |