Show simple item record

dc.contributor.authorSajogyo
dc.date.accessioned2026-02-10T08:55:27Z
dc.date.available2026-02-10T08:55:27Z
dc.date.issued1996
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172688
dc.description.abstractBeragam alternatif ukuran garis kemiskinan yang diajukan H. Esmara (Universitas Andalas) hanya memakai ukuran "di bawah rata-rata". Yaitu angka: (a) konsumsi beras (kg per orang); (b) konsumsi 9 bahan pokok; (c) pengeluaran rumah tangga (Rp/orang); dan (d) konsumsi kalori dan protein/orang/hari (secara terpisah) dengan membedakan nilai rata-rata menurut Jawa dan lain daerah, dan desa atau kota. "Di bawah rata-rata" itulah yang disebut "miskin". Tetapi masih ada alternatif lain yang lebih tepat, yaitu di bawah 50% median. Kekurangan pada cara/ukuran relatif tersebut ialah, garis ke-miskinan itu tidak dihubungkan dengan keperluan pokok, paling tidak keperluan pangan di mana patokannya makin mantap. Yaitu berdasar susunan umur/sex rumah tangga, jenis pekerjaan, dan sebagainya, berkat penelitian WHO/FAO. Juga, cara dari segi kebijaksanaan. Cara itu belum dapat menunjukkan bagaimana dan berapa besarnya biaya usaha mengatasi kemiskinan itu oleh "masyarakat luas" dan oleh golongan miskin tersebut! Distribusi pendapatan juga tak menyinggung "keperluan pokok pangan" sesuai keperluan tiap orang/rumah tangga. Pertanyaan: Jika distribusi makin baik, apakah yang miskin sudah "mentas" dari kekurangan pangan? Pertanyaan itu belum terjawab. ...id
dc.language.isoidid
dc.publisherPerpustakaan Sajogyo Instituteid
dc.titleGaris Kemiskinan dan Kebutuhan Minimum Panganid
dc.typeArticleid
dc.subject.keywordGaris Kemiskinanid
dc.subject.keywordKecukupan Gizi dan Panganid
dc.subject.keywordGolongan Lemah Pedesaanid
dc.subject.keywordKualitas Hidupid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

  • Sajogyo [84]
    Collection contains materials pertaining to the Able Family

Show simple item record