Pengaruh Rasio Heksana dalam Proses Isolasi Protein Kedelai Varietas Grobogan dan Karakteristik Rheologi ProteinnyaNanik Purwanti
Abstract
Kedelai dapat diisolasi proteinnya sehingga menghasilkan isolat protein
kedelai. Setiap tahapan isolasi protein kedelai mempengaruhi kuantitas dan
kualitas protein yang dihasilkan, salah satunya adalah proses penghilangan lemak.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh rasio antara pelarut lemak
(heksana) dengan tepung kedelai pada proses isolasi protein serta karakteristik
rheologi proteinnya. Isolat protein kedelai dihasilkan dengan proses defatting
dengan dua rasio antara tepung kedelai dan heksana sebagai pelarut lemak.
Tepung kedelai berbanding heksana pada rasio 1:5 menghasilkan soy protein
isolate (SPI) A dengan kadar protein 92.03% bk dan rasio 1: 10 menghasilkan SPI
B dengan kadar protein 91.69% bk. Berdasarkan pengujian pada suhu 95oC,
viskositas kedua jenis protein pada konsentrasi 5% (w/w) menurun dengan
peningkatan shear rate menunjukkan kedua larutan memiliki perilaku shear
thinning. Pada konsentrasi yang sama, sifat gelasi diuji secara kualitatif dan
kuantitatif. Berdasarkan uji kualitatif dengan pemanasan larutan protein dalam test
tube di suhu 95oC selama 30 menit, SPI A tidak membentuk gel, sedangkan SPI B
dapat membentuk gel pada pH 2 dan 7. Pengujian kuantitatif menggunakan
rheometer menunjukkan nilai damping factor selama temperature sweeps
didominasi nilai di atas 1 untuk SPI A dan SPI B, kecuali pada SPI B pH 7 yang
menunjukkan dominasi nilai di bawah 1. Hasil frequency sweep menunjukkan
indikasi pembentukan gel pada SPI A dan SPI B. Sedangkan hasil strain sweep
menunjukkan SPI A dan SPI B memiliki ketahanan struktur protein yang lemah
pada pH 2. SPI B pada pH 7 memiliki potensi paling baik dalam membentuk gel
dan struktur yang tahan terhadap aplikasi strain dengan nilai G’ > G” pada
frekuensi 0.1 sampai 50 Hz dan linear viscoelastic range berada pada rentang
strain 0.1 sampai 100%.
