Sintesis Perekat Tanin Resorsinol Formaldehida dari Ekstrak Kulit Pohon Mangium untuk Peningkatan Kualitas Batang Kelapa Sawit
View/ Open
Date
2017Author
Rachmawati, Okti
Sugita, Purwantiningsih
Santoso, Adi
Metadata
Show full item recordAbstract
Batang sawit memiliki stabilitas dimensi, kerapatan, sifat fisik, dan mekanik yang rendah dibanding jenis kayu lainnya. Upaya untuk mengatasi kelemahan sifat batang sawit tersebut dapat dilakukan melalui pemadatan (densifikasi) menggunakan kempa panas dan penambahan bahan kimia atau perekat. Upaya pemadatan melalui pengempaan masih menyebabkan terjadinya pemulihan tebal kayu (springback) ketika kayu terpadatkan terpapar oleh suhu dan kelembaban lingkungan. Diperlukan metode kompregnasi dan perekat bahan alam yang ramah lingkungan untuk memperbaiki sifat batang sawit tersebut sehingga kualitasnya meningkat.
Penelitian ini bertujuan mendapatkan komposisi optimal tanin resorsinol formaldehida (TRF) dalam aplikasinya sebagai bahan perekat untuk peningkatan kualitas batang kelapa sawit. Tanin diekstraksi menggunakan air pada suhu 75 °C dan selanjutnya dikopolimerisasi dengan resorsinol dan formaldehida. Pencirian TRF dilakukan melalui analisis gugus fungsi menggunakan spektroskopi inframerah, analisis termal menggunakan differential scanning calorimetry (DSC), dan kristalinitas menggunakan difraksi sinar X (XRD).
Hasil penelitian menunjukkan kereaktifan tanin dalam kulit pohon Acacia mangium sebesar 65.82%, komposisi optimal perekat TRF (v/v) adalah 1:0.05:0.05 dengan kadar padatan 8.33%, formaldehida bebas 0.09%, suhu transisi fase pada 98.73 °C, dan derajat kristalinitas 10.92%. Ekstrak tanin yang dihasilkan memiliki karakter spesifik pada bilangan gelombang yang sesuai dengan ciri yang dimiliki oleh standar tanin akasia impor. Adanya penambahan gugus fungsional baru dan adanya peningkatan intensitas serapan pada beberapa bilangan gelombang melalui analisis spektroskopi inframerah pada TRF dan juga batang sawit hasil kompregnasi mengindikasikan terjadinya ikatan yang dihubungkan oleh jembatan eter dan metilena pada TRF dan antara TRF dan komponen kimia (lignoseluosa) pada batang sawit. Batang sawit hasil kompregnasi secara signifikan meningkat kerapatannya sebesar 104.61%, kekerasan menjadi 6 kali lipat, dan penurunan pengembangan tebal sebesar 85.98%. Batang sawit hasil kompregnasi juga meningkat kualitasnya dari kelas kuat kayu V menjadi kelas kuat kayu III sehingga dapat digunakan dalam pembuatan produk eksterior.
