Analisis Struktur Sekretori, Histokimia, Fitokimia, dan Potensi Antibakteri Tumbuhan Obat Antiinfeksi di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi
View/ Open
Date
2017Author
Muliyah, Evi
Sulistijorini
Sulistyaningsih, Yohana Caecilia
Rafi, Mohamad
Metadata
Show full item recordAbstract
Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) merupakan kawasan hujan tropis
dataran rendah di Provinsi Jambi. TNBD dihuni oleh suku Anak Dalam yang
memanfaatkan tumbuhan obat di kawasan tersebut, salah satunya untuk mengobati
gejala infeksi. Tumbuhan obat mengandung senyawa metabolit sekunder yang
bermanfaat dalam bidang kesehatan, diantaranya sebagai antibakteri.
Lingkungan memiliki peranan penting dalam proses sintesis metabolit
sekunder. Faktor-faktor lingkungan tersebut antara lain cahaya, kelembapan, suhu,
nutrisi tanah, dan iklim. Metabolit sekunder diproduksi oleh struktur sekretori.
Struktur sekretori memiliki banyak tipe, diantaranya adalah sel idioblas, trikoma
kelenjar, hidatoda, saluran nektar, dan saluran latisifer. Keberadaan metabolit
sekunder pada tumbuhan dapat dideteksi melalui metode histokimia dan fitokimia.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji struktur sekretori,
menganalisis secara kualitatif kandungan metabolit dengan metode histokimia dan
fitokimia, serta mempelajari potensi tumbuhan obat antiinfeksi asal TNBD sebagai
antibakteri. Pengambilan sampel mengikuti metode jelajah flora. Sebanyak 11 jenis
tumbuhan obat antiinfeksi diamati. Sediaan mikroskopis dibuat untuk pengamatan
struktur sekretori. Pengujian histokimia menggunakan reagen Wagner, Cupri asetat,
feri triklorida, sudan IV, dan aluminium triklorida. Pengujian fitokimia mengikuti
metode Harborne. Aktivitas antibakteri diuji dengan menggunakan metode difusi
sumur.
Suku Anak dalam menggunakan 9 jenis tumbuhan untuk mengobati diare,
yaitu Aglaonema simplex, Macaranga gigantea, Horsfieldia grandis, H.
polyspherula, H. wallichii, Syzygium baringtonioides, Rhodamnia cinerea, T.
scandens, dan Nothocissus spicifera. Dua tumbuhan lain, yaitu Piper caninum dan
Selaginella plana digunakan untuk mengobati infeksi pada kulit. Tumbuhan
tersebut tumbuh di tanah yang memiliki pH 5.6 - 6.3 dan kelembapan tanah 38.3%
- 73.7%. Tumbuhan tersebut hidup pada kelembapan udara relatif 58.4-68.5%, suhu
udara 28.8-33.0 ºC, dan intensitas cahaya 546.2-1309.9 lux. Tumbuhan yang
mendominasi adalah N. spicifera dan H. grandis.
Struktur sekretori diamati pada organ tumbuhan yang digunakan oleh suku
Anak Dalam sebagai bahan obat, meliputi: daun, batang, kulit batang, dan akar.
Batang yang digunakan berasal dari tumbuhan A. simplex, T. scandens, dan N.
spicifera yang terdiri atas bagian epidermis hingga kambium, sedangkan kulit
batang yang terdiri atas lapisan epidermis dan korteks berasal dari tumbuhan M.
gigantea, H. grandis, H. polyspherula, H. wallichii, S. baringtonioides, dan R.
cinerea. Struktur sekretori yang ditemukan pada tumbuhan obat antiinfeksi yang
diamati ada 2 tipe, yaitu sel idioblas dan trikoma kelenjar. Tipe struktur sekretori
yang mendominasi adalah sel idioblas. Sel idioblas yang ditemukan pada kulit
batang tersebar di lapisan korteks, dengan kerapatan tertinggi dimiliki oleh H.
polyspherula yaitu sebesar 28.6±2.8/mm2. Kerapatan idioblas tertinggi pada batang
ditemukan pada T. scandens, yaitu sebesar 55.0±2.5/mm2. Sel idioblas pada batang
tersebar di epidermis, korteks, dan empulur. Trikoma kelenjar berupa trikoma
biseluler ditemukan pada sisi adaksial dan abaksial daun P. caninum. Trikoma
uniseluler ditemukan pada epidermis batang T. scandens.
Berdasarkan uji histokimia, sel idioblas pada tumbuhan obat antiinfeksi
yang diamati mengandung senyawa terpenoid, alkaloid, fenol, dan senyawa
lipofilik. Trikoma kelenjar P. caninum mengandung senyawa terpenoid, alkaloid,
fenol, flavonoid, dan senyawa lipofilik, sedangkan pada T. scandens hanya
mengandung flavonoid. Analisis fitokimia menunjukkan bahwa semua ekstrak
tumbuhan mengandung senyawa golongan terpenoid dan fenol.
Secara umum, aktivitas penghambatan terbesar terhadap bakteri
Staphylococcus aureus dan Eschericia coli ditunjukkan oleh ekstrak dengan
konsentrasi 100 mg/ml, kecuali pada P. caninum dan S. plana. Ekstrak 100 mg/ml
T. scandens memiliki aktivitas penghambatan terbesar terhadap S. aureus, yaitu
10.7 mm. sedangkan aktivitas penghambatan terbesar terhadap E. coli dihasilkan
oleh ekstrak A. simplex yaitu 13.0 mm. Semua tumbuhan yang digunakan oleh suku
Anak Dalam untuk mengobati diare menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap
E. coli. Dua tumbuhan yang digunakan untuk mengobati infeksi pada kulit, yaitu P.
caninum dan S. plana tidak menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap S.
aureus.
