Karakterisasi Ahl-Laktonase Bacillus Thuringiensis Sgt3g Dan Uji Anti Quorum Sensing Terhadap Patogenisitas Dickeya Dadantii Pada Phalaenopsis
View/ Open
Date
2016Author
Sari, Putri Eka
Rusmana, Iman
Akhdiya, Alina
Metadata
Show full item recordAbstract
Dickeya dadantii merupakan salah satu bakteri fitopatogen tanaman
penyebab penyakit busuk lunak pada anggrek. Bakteri tersebut menggunakan
proses quorum sensing dalam mengaktifkan faktor virulensinya. D. dadantii
menggunakan N-acyl homoserine lactone (AHL) sebagai sinyal dalam
mengkordinasikan ekspresi enzim pektinolitik yang digunakan untuk
mendegradasi dinding sel tanaman. Akumulasi sinyal AHL dapat dicegah oleh
AHL-laktonase sehingga faktor virulensi tidak dapat diekspresikan. Tujuan dari
penelitian ini adalah mengetahui karakteristik enzim AHL-laktonase Bacillus
thuringiensis SGT3g serta untuk menguji aktivitas penghambatan virulensi
fitopatogen D. dadantii pada anggrek Phalaenopsis ekanagasaki.
B. thuringiensis SGT3g menghasilkan enzim AHL-laktonase ekstraseluler
dan intraseluler yang mampu menghidrolisis AHL. Aktivitas AHL-laktonase
ekstraseluler dan intraseluler ditunjukkan dengan terbentuknya zona quorum
quenching terhadap Chromobacterium violaceum sebesar 7.25 mm dan 10 mm
berturut-turut untuk enzim ekstraseluler dan intraseluler. Enzim ekstraseluler
berhasil mengendap pada penambahan amonium sulfat dengan konsentrasi 70%
(b/v). Aktivitas AHL-laktonase hasil dialisis meningkat 1.45 kali dibandingkan
dengan presipitatnya. Konsentrasi protein enzim AHL-laktonase hasil dialisis
sebesar 0.683 mg/mL sedangkan presipitat sebesar 0.916 mg/mL. Presipitat enzim
ekstraseluler dikarakterisasi berdasarkan pH dan suhu. AHL-laktonase
B. thuringiensis SGT3g memiliki kisaran pH dan suhu yang luas. Aktivitas
optimum presipitat AHL-laktonase berada pada pH 5-8. Aktivitas optimum AHLlaktonase
dicapai pada suhu 30 ºC. AHL-laktonase masih aktif pada suhu 40-
90 °C setelah diinkubasi selama 30 menit.
Gejala busuk lunak pada daun anggrek hibrida Phalaenopsis yang
diinokulasikan dengan B. thuringiensis SGT3g sebelum diinfeksi dengan
D. dadantii mengalami penurunan gejala sebesar 50% setelah 24 jam inkubasi.
Sebaliknya daun anggrek yang hanya diinfeksi dengan D. dadantii mengalami
gejala busuk lunak yang lebih parah (100%). Penghambatan proses quorum
sensing D. dadantii pada daun Phalaenopsis tersebut dikonfirmasikan dari hasil
perhitungan populasi sel D. dadantii pada kontrol positif dan perlakuan
B. thurungiensis SGT3g+D. dadantii yaitu berturut-turut sebanyak 1.01 x 109 dan
3.96 x 108. Hal tersebut mengindikasikan bahwa proses penghambatan munculnya
gejala busuk lunak yang terjadi pada daun anggrek tersebut bukan mekanisme
antibiosis melainkan proses quorum quenching. Penelitian ini memberikan
informasi potensi aplikasi B. thuringiensis tidak hanya dapat dimanfaatkan
sebagai agen bioinsektisida tetapi juga sebagai agen pengendali penyakit tanaman
berbasis anti quorum sensing.
